pada air yang menggalir
aku titipkan untaian rindu dalam syair
untuk memanggilmu kekasih hati pelipur getir
segeralah engkau hadir
menggengamku erat dalam do'a dan dzikir
hingga menjelma keindahan pada takdir
aku titipkan untaian rindu dalam syair
untuk memanggilmu kekasih hati pelipur getir
segeralah engkau hadir
menggengamku erat dalam do'a dan dzikir
hingga menjelma keindahan pada takdir
tidakkah kau lihat rinduku bermuara pada satu jiwa?
lalu aku memetakan angka-angka cinta
satu persatu kau buka dan kau baca
sementara bilangan-bilangan telah tanggal
tunggulah sebentar
lalu aku memetakan angka-angka cinta
satu persatu kau buka dan kau baca
sementara bilangan-bilangan telah tanggal
tunggulah sebentar
aku akan menunggu hari yang indah
kutuangkan senyum yang penuh berkah
menyambutmu datang tanpa gudah
kutuangkan senyum yang penuh berkah
menyambutmu datang tanpa gudah
tunggulah, sampai rembulan naik hingga membelah
akan kuberikan sebuah sabit untukmu
duhai jiwa penyejuk lelah
semoga setiap detik menjadi indah
akan kuberikan sebuah sabit untukmu
duhai jiwa penyejuk lelah
semoga setiap detik menjadi indah
telah kuhamparkan permadani sabar
untuk menantimu membawakan setangkai mawar
agar senyum terus mekar
meski gelap malam menemani
namun kasihmu selalu menyinari
agar rindu lengkap tak berkesudahan
menyusuri tiap keindahan
dalam kebersamaan
mengisi tiap kekosongan
penuh dengan kedamaian
menyusuri tiap keindahan
dalam kebersamaan
mengisi tiap kekosongan
penuh dengan kedamaian
pada akhirnya ayat ayat kita akan terbaca
dan nama kita selayaknya bergetar
ketika resah itu perlahan pudar
menggenapi rindu dan sunyi yang memendar
mari kita penuhi halaman ini dengan aksara aksara pengikat jiwa
dan nama kita selayaknya bergetar
ketika resah itu perlahan pudar
menggenapi rindu dan sunyi yang memendar
mari kita penuhi halaman ini dengan aksara aksara pengikat jiwa
menautkan hati dalam genggaman do'a
kita selayaknya penyair senja
berselimutkan atap-atap cinta







