Selasa, 31 Januari 2012

Mawar Cinta


pada air yang menggalir
aku titipkan untaian rindu dalam syair
untuk memanggilmu kekasih hati pelipur getir
segeralah engkau hadir
menggengamku erat dalam do'a dan dzikir
hingga menjelma keindahan pada takdir

tidakkah kau lihat rinduku bermuara pada satu jiwa?
lalu aku memetakan angka-angka cinta
satu persatu kau buka dan kau baca
sementara bilangan-bilangan telah tanggal
tunggulah sebentar

aku akan menunggu hari yang indah
kutuangkan senyum yang penuh berkah
menyambutmu datang tanpa gudah

tunggulah, sampai rembulan naik hingga membelah
akan kuberikan sebuah sabit untukmu
duhai jiwa penyejuk lelah
semoga setiap detik menjadi indah

telah kuhamparkan permadani sabar
untuk menantimu membawakan setangkai mawar
agar senyum terus mekar
meski gelap malam menemani
namun kasihmu selalu menyinari

agar rindu lengkap tak berkesudahan
menyusuri tiap keindahan
dalam kebersamaan
mengisi tiap kekosongan
penuh dengan kedamaian

pada akhirnya ayat ayat kita akan terbaca
dan nama kita selayaknya bergetar
ketika resah itu perlahan pudar
menggenapi rindu dan sunyi yang memendar
mari kita penuhi halaman ini dengan aksara aksara pengikat jiwa


menautkan hati dalam genggaman do'a
kita selayaknya penyair senja
berselimutkan atap-atap cinta

Minggu, 29 Januari 2012

SABDA GITA RINDU

SABDA GITA RINDU

:catatan pada seorang putri.
Dalam ikhtiar teguk sembab air mataku.
Ku sapa mesra rengkuh nurani.
Sebujur do’aku yang ku pautkan dalam aroma rindu dan tapak sapamu.
Kau rupa putik bunga.
Senyum-mu adalah serbuk halus yang kau titahkan pada ragaku.
Searoma padu rengkuh nada hatimu yang kau desirkan di balik sendu isak-mu.
Dawai matahari
Ku alamatkan dalam restu tutur-mu
Bertadah-ku
dalam sapamu.

Di langit subuh pada sejadah auramu.

Yogyakarta 27July2011

Serpihan Hati Sang Perindu

Serpihan Hati Sang Perindu


ku sapa engkau yang merantau dalam uzlah beralas percikpercik malam
rintik gema bahasamu tuturkan aroma dan pesona yang kau jaring dalam selimut ilalang yang terunduk tafakkur
temanilah diri yang kini sembab dalam kujur dan baris ingatanku
mungkin malam tak beraroma purnama
namun tutur itu, yang lahir dalam gairah anggun tulusmu
ceritakan sejarahsejarah rindu yang kau bahasakan dalam skema
dahagamu dalam arti kehadiran
bintang dan bulan
sapa mesra dari nada malam

anggunmu adalah baris alismu yang beriak di tangkai nada kerinduanmu, semoga

terlahir di kamar rinduku padamu, yang menyambut sederhanaku
 
Yogyakarta 26july2011

Sabtu, 28 Januari 2012

AKSARA MENINDAI LIRIH SUJUDMU DI LEMBAR MUSYHAF TABIAT

AKSARA MENINDAI LIRIH SUJUDMU DI LEMBAR MUSYHAF TABIAT

Maskawin 5.

Telat tersemat ribuan aksara dari kamar yang beraroma kenanga, hantarkan berkas-berkas kecil yang terikat dalam semat pijar luluh sujudmu di sejadah yang mendampar hatiku. Mengeja hijaiyah kitab wahyu di laman lembar fatihah lamarku.
Terlahir dalam rakhiem udara yang menggeliat dari istana termaktub cerita dan sejarah, kau dan aku ziarahi halaman tahajjud dalam wirid mihrab merias cahaya memetik purnama. Terhatur di tubuh tabiat. Terdekap dalam peluk kecup kalimat mahabbah.

Kampung Tafakkur, 16/08/11: 02:11

SECAGAK HALU RINDUKU

SECAGAK HALU RINDUKU

Maskawin 4.

;Kepadamu yang sedang berdandan di kota lahirmu

Dalam jarah lepas dahaga ini
Ku ikrarkan satu tatap nanar rinduku yang berbaris pada halu kisah di istana ini
Istana cinta yang bersaksi akan jerit pertama kelahiranku
Telah tertuai dalam secawan benih laman langit yang merunduk bertutur  tentang berkas wajahmu yang terlukis indah pada kelambu hatiku yang mulai ku sucikan dengan tasbihku.
Cerita dalam kisah
Mulai tertata rapi dalam kubus tahta air mata beralas heningku lewat rebah rindu yang kau labuhkan di dermaga jiwa ini. Bernahkodah dalam keping bahasamu bersama kalimat kecil yang bubungkan hatiku dalam kelana resah.
Layakkah aku mencarimu dari padang ke gurun, hingga ke multazam atau ke raudlah?
Sedang aku hanya kalimat kecil dari musyhaf kitab hidupmu. Aku hanya bagian cerita pendek dari sejarahmu. Bahkan mungkin aku adalah pecinta yang tak memiliki istana megah, untuk sekedar membuatmu berteduh dari rintik hujan dan sapa sengat matahari.
Relakah  kau hantarkan aku pada istana hati yang berbalut taman yang bernama kesucian cinta? Atau kau akan biarkan hatiku berguguran dan berhamburan setelah pinangmu pada hari-hariku menggaris sekian rindu?
Telah ku cipta kamar penantian di bumi yang telah basah dengan darah dan air mataku. Telah aku siapkan berlembar-lembar kanvas putih tak berbencak. Berharap kau kan lahirkan dan mengukirnya dengan tinta suci dalam lumur istijabah.

Sumenep, 08/08/11. 00:56 (Istana Kelahiranku)

NOSTALGIAKU PADA DAWAI TANYAKU YANG KAU TANGGUHKAN

NOSTALGIAKU PADA DAWAI TANYAKU YANG KAU TANGGUHKAN
Maskawain 3.

; kepada sang putri

pada siapa hrus ku tunaskan kepak rindu ini, kala galau rinaikan bercak kalimat-kalimat sepi. pesonamu, alirkan dahaga rinduku, dalam ukir bulan sedingin ini. memintalah untuk aku sambut, dalam rasa beralas tangkai tangkai cinta
kau telah berdo’a.
di damai-damai ceritamu bersamaku. Tidakkah aku kau jadikan lawatanmu. Pada istana yang kau ciptakan kamar- kamar kecil dalam tautan hatimu.
Benarkah itu ruang kosong. Yang hanya kau isi aku sebagai pendampingmu. Atau kau hanya tak ingin melihatku menyeka air mata?
Aku bukan bertanya.
Deras  betapa deras. Sapamu yang termaktub dalam aroma teratai yang pernah kau gumpalkan dalam tanyaku. Tak sempat kau rabakan aku pada rona bisik yang merebah. Kau terlalu berani bungkam lisanku dalam lagu dan nadamu yang kau petik dalam dawai baris sendu kala itu.
Inilah cipta semat rasa yang sempat kau riakkan padaku di malam itu. Kau menjamahku dalam desir riangmu, taburkan aku sari-sari bunga, dalam makna teratai yang masih kau rahasiakan.
“jika kau tahu makna teratai, begitulah aku” (katamu)
Masih ingatkan kau pada katamu kala itu. Telah suntingku dalam janjimu di dasar perjalanan kabilah dera hati dan waktu yang dinanti. Haruskah aku mengejar waktu yang sempat kau janjikan. Atau aku cukup menjadi penyelam yang berdayung di jiwa dan hadirmu.
Inilah samudra yang kau tawarkan padaku.
Inilah sajakku yang ku cipta sampan kecil.
Ku titipkan dayung cinta kita padamu.
Akankah kau tenggelamkan aku. Atau akan selamatkan aku dalam jelma udara dan rahasia di balik dinding do’a dan taqarrub kita. Tuk gapai halaman-halaman dalam kamar pengantin.

Yogyakarta, 6. Agustus.2011. 00:32 (ruang tafakkur)

Lipat Tanganku Dalam Samudera Hatimu

Aku dudukk di depan pintu kamarku, ku tatap halaman rumahku, b'harap ada derab langkah kakimu, dan kaupun kan memanggilku dgn sapa yg lembut.

Ku mulai hirup udara yg sejuk dini ini, dalam harap hati, sedamai kau peluk aku dalam ijab yg sakral.

Dan akupun berharap, kau kan ikhlas temaniku di negeri kelhranku.
Mash mampu ku bendung tetes air mata gundah ini, entah pada waktu istrjbah slanjutnya!?.

Namun begtu menggil ragaku bila harus ku sbdkan padamu, krn mungkin aku hanya sebtas bercak debu di tanganmu, yg kpan saja dpat kau hembus, dan debu itupun b'hamburan, lalu kau siskan sayat luka yg beralas rengkuh siksa tak terarah.

Aku tak ingnkan itu,sungguh. Tapi aku hrus merunduk tuk renungkan makna sujudku. Saat ni Aku hanya mampu mencntai, dan mungkin tak mesti pksakan agar kau sematkan sorban amanah imam dan cinta di pundakku. Karena kini terjarah dalam sadarku, bahwa kasta kita berbeda, aku hanya pecintamu yg dlhirkan dan dibsarkan dalam ksedrhana'an, sedang engkau senantiasa berhias permadani yg megah, dan penuh manja yg nyata.

Dlam rukukku, ku patrikan tanyaku tntang ksungguhan hatimu, karena cinta ini bukan lagi rahasia, meski kau terlalu setia dengan rahasiamu.semoga saja kau tak hanya dapat ungkap rahasia it di atas nisan pusaraku, krna nfas ini tak dpat aku terka, smpai kpan akn tetp aku hrup. Sdang aku jug tak mampu menbak dan menrjmahkan makna hatimu yg sesngguhnya dgn smpurna.

Kali ini aku tak ingn memksamu untk mengtkanx lagi, aku tak ingn lagi mendengar kata "belum sa'tnya", ckup air mta dan do'aku yg memhaminya, krn wktu di esok hari, belum tentu aku msih ada di pelminan dunia ini. Ktkan saja dgn ikhlas, jik aku memang tak pantas, tnpa harus kau terus brikan alsan dgn sjuta rhsia waktu yg sering kau ucpkan.

Krn dgn menunggu kmtian sja, wktuku sudah tak ckup. Aplge jik hrus menantkan jwban yg slalu kau rhsiakan. Dan Tuhan pun tdak rahasiakan rasa ini.


02:58. 10/08/11 [kampung tafakkur kelhranku]

Semoga

Sejujurnya aku bukan laki-laki yang bisa meyakinkanmu lewat beribu-ribu penjelasan dengan waktu yang lama, namun aku juga tak mampu menggayuh sampanku dengan terpa angin kerguan di luas samudra semesta kasih ini.
 
Akankah engkau akan kembali yakin dan sadar atas kesungguhan di hatimu, bila di antara nisan pusaraku telah tumbuh sekian ilalang dan rumput liar?, bahwa tanah kering pusaraku pernah basah dengan air matamu di atas syahadah arti mataku yang sangat penuh harap?.
 
Atau justru engkau akan membiarkan diriku sepi karena darah luka yang pernah ku alirkan di sekujur tubuhmu?.
 
Dialah sang pemilik hati, Dialah pencipta rasa ini.
Hanya Dia lah sang agung yang akan membuat hatimu kembali bersinar. Semoga aku mampu istiqamah untuk memantik do'a-do'aku dalam munajat sujudku.

Bimbang


Bimbang

Elaine Firdausza


pertama kalinya  ia menyapa
aku begitu terpesona
dengan rangkaian huruf yang ia tata menjadi kata
terpancar keindahan hatinya yang begitu bijaksana
hingga
memenjarakan aku dalam kerinduan yang mendera
ketika ia berikan aku setitik cahaya
dan memelukku dalam cinta
ada kedamaian yang aku rasa

namun kenapa cahaya itu kini kian suram
dan duriduri penghalang kian menghujam
adakah jalan masih panjang
kenapa kini ada serpihanserpihan bimbang
mampukah aku melewati setiap terjal

ya Rahman padaMu aku mengadu
tentang hati yang diliputi ragu dan cemburu
sucikan hatiku
dari titiktitik noda yang menghitamkan niatku

tuntunlah langkah kaki ini
pada cahaya kasih nan suci
jangan biarkan aku melangkah tanpa kendali
hingga mengabaikan fitrah yang sejati
dan sampaikanlah aku pada cinta yang Kau ridhai

skema terindah pada malam nanti.

di tadah hilal yang menatap pada tebal bibirmu.
aku ingin menyentuhnya.
dalam lembut lidahku yang mulai tergetar dalam gigil.
hingga kau berada dalam satu jamahku. dan kaupun akan bertandan dengan seribu desah yang memanjang pada usap bintang. hingga
kau kan berucap
"eratkan saja tanganmu mengalung di leherku, dan ku ikhlaskan malam ini, tuk jadikanku putri yang seutuhnya bagimu, dan aku akan mengabdi padamu dengan dawai ketaatan"
kaupun menatap langit-langit mataku
hingga tercipta senyum tipis di bibirmu itu. kembali aku melepas hasratku di bibirmu.
kaupun erat mematri tubuhku. dan aku tak tahu.
biarkan malam yang menyaksikan. dan angin membawa desah nafas kita yang merintih.

surat cinta



Dear: engkau

  1. pecinta melati
Di waktu yang telah lalu, kita telah dipertemukan. Cerita itu benar-benar membekas dalam ingatanku. Tak bisa aku menjabarkan, karena disetiap senyum yang kau tunjukkan padaku, membuatku tak bisa berkata apa-apa, karena senyummu jauh lebih indah dari cerita itu sendiri.
Entah bagaiamana aku harus katakan kerinduan ini, merasakannya saja kadang aku tak mampu. Entahlah, apa karena aku ingin segera mendkapmu? Atau mungkin, inilah getar cinta yang semakin kuat itu?. Sehingga kadang aku harus meneteskan keringat dinginku untuk memikirkanmu.
ini benar adanya, bahwa  getar cinta kasih, kiranya dapat aku sampaikan padamu, dan berharap kaupun akan merasakannya.
Selamat tidur, semoga kau tidur lelap malam ini.
Aku menunggu balasan suratku ini.

Dariku.
Di masyafah sujud kasih.


Jumat, 27 Januari 2012

DALAM TEGUK PELAMINAN SUBUH

DALAM TEGUK PELAMINAN SUBUH
Jhody M. Adrowi

;Kepada sang putri.
                
Ku usap wajahku dalam urai subuh
Berantai sapa hijrah para malaikat
Raup  jelma wajahmu mulai bingkaikan sapa sayu  sembab hatiku
Kini:
Mulai ku kaji engkau dalam kaligrafi mushaf wahyu, dan kaupun mulai menari dengan lentik jamah sendu gemercik pesonamu dalam haltar hati. Ikrar masih memanjat pohon nadi yang telah tumbuh dan berakar pada cerita dari bibirmu, dan kini mulai ku syairkan dalam tunas nafasku. Sambutku pada pilar dan atap sapa syahadatmu, dan syahadat kita.
Rampai melandai
Merias sejadah yang kita panjangkan dalam slendang lazuardi
Alirkan tadah landai sujud kita ditepi danau air mata
Do’amu
Mulai mendaki tangga lamunanmu, menziarahi senyum dan salam rindumu
Akan ku rundukkan namamu dalam tafakkurku
Setanya Adam tentang Hawa.

Yogyakarta, 2011. 06:21 (ruang tafakkur)

Akulah Sang Bunga Samar

Akulah Sang Bunga Samar

Elaine Firdausza


akulah sang bunga samar
tumbuh mekar
dan berkembang dalam asuhan Tuhan
menyembunyikan diri dari riuh rendahnya kepentingan
mengambil pelajaran dari setiap perjalanan
meski terjal jalan kehidupan
meski curam lembah dan jurang dihadapan
tetap saja kaki harus melangkah
tetap juga hati harus berbenah
menemukan mereka pada kaca bianglala
tercermin wajah sendiri
untuk menatap bukan pada kelebihan
melainkan menutup segala yang kurang
mencoba untuk mengambil yang terang
dan berusaha untuk meninggalkan yang remang remang
akulah sang bunga samar
yang mekar dan berkembang dalam asuhan kehendak Tuhan
untuk mengabdi pada kehidupan
menawarkan keindahan
akulah sang bunga samar
dimana para pejalan selalu bahagia bila memandang
oh bunga pujaan
mekar dan berkembanglah
mengabdi pada Sang Pemilik Keindahan
dengan menyebarkan kebahagiaan
bukan kesedihan
akulah sang bunga samar
menyapa dan rindu untuk merangkul kalian dalam cinta
bersatu membina jiwa dalam rengkuhan kasih sayang-Nya

*setiap bunga yang masih di taman
terlihat indah dan mempesona
namun bunga yang di tangan
jagalah jangan sampai layu dan hilang..!

Rindu Yang Terukir


Rindu Yang Terukir

Elaine Firdausza


syahdu dan tak akan jemu
kusenandung simfoni cinta untukmu
ada kekaguman yang enggan sirna jika kulihat dirimu
indah tutur sapamu mengukirkan rindu
menarik kalbu, mengharu biru
meski lapisan makna koma mengundang tanya
entah sampai kapan koma ini berjejal memenuhi aksara
pada tiap susunan huruf yang kau tata
seperti binarnya matahari senja
membuatku mengaca
pada kolam yang tenang
diantara teratai kuulas senyuman
meresapi syair yang kau tinggalkan
duhai ksatria yang lembut hatinya
yang membawaku bersandar pada dinding jingga
adakah galau yang tak sengaja luput kueja
hingga rindu kini meraja
menebar asa
di setiap jalan tanpa warna nyata
kelopak mataku telah jatuh di peraduan
saatnya kita menjadi lakon dalam alam impian
antara harapan dan tujuan
yang mengangkasa, membukit lewat pucuk-pucuk cinta penuh kerinduan
memeluk dengan senyuman
ketika langit cerah
menyambut mawar yang merekah

Mendekapmu Dalam Wangi Cinta

Mendekapmu Dalam Wangi Cinta

Elaine Firdausza


aku memanggilmu dalam untaian do'a
dengan senandung diorama yang indah
kupeluk dirimu dalam dekapan wangi cinta
diatas lembaran sajadah

kupersembahkan seikat rindu yang membias
untukmu duhai ksatria yang berjiwa ikhlas
lihatlah garis garis tangan yang tergambar jelas
menguatkan langkah kita yang terbatas
menuju asa yang sempat terlepas

melati putih yang mulai mekar
merengkuh cahaya yang berbinar
dengan tangkai cinta yang tegar
setia menantimu dengan hati sabar

rindu yang terus mengalir
ku tuang dalam syair
sampai engkau hadir
menjadi pelipur getir
dan menjelma keindahan takdir

aku selalu menunggumu
dengan bermunajad pada Sang Maha Penentu
hingga semua muzaik ini menjadi satu
dalam bingkai yang tak semu
menjadikan malam malam kita syahdu

Rabu, 25 Januari 2012

SEKECUP LAMAR SARIKU PADA BAIAT SUCI

SEKECUP LAMAR SARIKU PADA BAIAT SUCI

Jhody M. Adrowi

:Untuk putri yang mengeja kota.

Di tepi kota yang kau singgahi
Sesudut terkamu pada serpih aroma dan kerinduan
Kaulah percik sari-sari itu
Menelaah tangkai hatiku, mengeja aksara yang berhamburan dalam ruang rasa
Kini ingin ku mulai
Hamparkan sejadah pelaminan berias pesona purnama
Dari kecup debu di kakimu yang mulai basah dengan riak air matamu
Ku ziarahi dalam dawai wahyu
Berbaris tafsir kasihku yang ku pintal pada mihrab dan syahadatku
Duduklah disini
Bersamaku
Bersama tafakkurku
Sentuhlah aku pada baris Nur ilahi dengan tahmid alifmu yang tegak melurus kasih
Ku kan melamarmu dengan pesona sejarah Yusuf.

Yogyakarta,2011. 24:21. (pelaminan do’a)

Senin, 23 Januari 2012

TALANGAN (petak sawah, yang diberi air laut, untuk membuat garam)


Terik membakar mata air
Air yang teralir dari keringat tubuh seorang bapak
Memetak, pada ranggas matahari yang teretak
Menyusup pada putih tulangnya yang kokoh memasung masa-masa
Melawan dan terlawan
Terus meruas dengan sekian rumus yang tandus
Entah bagaimana tubuh hitam itu benar-benar kuat
Sekuat baja
Pandangan tak jauh kagi, seakan riak-riak kecil air yang menerpa kakinya
Membangunkannya.
Bahwa dia benar-benar bernafas
Dan tak lagi terhitung jerihnya
Semakin jauh, menawafkan tubuhnya. Di balik piramida yang terukir di antara kening, dagu, hidung dan matanya.

Yogyakarta, 18-11-11