Terik membakar mata air
Air yang teralir dari keringat tubuh seorang bapak
Memetak, pada ranggas matahari yang teretak
Menyusup pada putih tulangnya yang kokoh memasung masa-masa
Melawan dan terlawan
Terus meruas dengan sekian rumus yang tandus
Entah bagaimana tubuh hitam itu benar-benar kuat
Sekuat baja
Pandangan tak jauh kagi, seakan riak-riak kecil air yang menerpa kakinya
Membangunkannya.
Bahwa dia benar-benar bernafas
Dan tak lagi terhitung jerihnya
Semakin jauh, menawafkan tubuhnya. Di balik piramida yang terukir di antara kening, dagu, hidung dan matanya.
Yogyakarta, 18-11-11

penuh dengan perenungan yg panjang, dan tak pernah usai
BalasHapus