Sabtu, 28 Januari 2012

NOSTALGIAKU PADA DAWAI TANYAKU YANG KAU TANGGUHKAN

NOSTALGIAKU PADA DAWAI TANYAKU YANG KAU TANGGUHKAN
Maskawain 3.

; kepada sang putri

pada siapa hrus ku tunaskan kepak rindu ini, kala galau rinaikan bercak kalimat-kalimat sepi. pesonamu, alirkan dahaga rinduku, dalam ukir bulan sedingin ini. memintalah untuk aku sambut, dalam rasa beralas tangkai tangkai cinta
kau telah berdo’a.
di damai-damai ceritamu bersamaku. Tidakkah aku kau jadikan lawatanmu. Pada istana yang kau ciptakan kamar- kamar kecil dalam tautan hatimu.
Benarkah itu ruang kosong. Yang hanya kau isi aku sebagai pendampingmu. Atau kau hanya tak ingin melihatku menyeka air mata?
Aku bukan bertanya.
Deras  betapa deras. Sapamu yang termaktub dalam aroma teratai yang pernah kau gumpalkan dalam tanyaku. Tak sempat kau rabakan aku pada rona bisik yang merebah. Kau terlalu berani bungkam lisanku dalam lagu dan nadamu yang kau petik dalam dawai baris sendu kala itu.
Inilah cipta semat rasa yang sempat kau riakkan padaku di malam itu. Kau menjamahku dalam desir riangmu, taburkan aku sari-sari bunga, dalam makna teratai yang masih kau rahasiakan.
“jika kau tahu makna teratai, begitulah aku” (katamu)
Masih ingatkan kau pada katamu kala itu. Telah suntingku dalam janjimu di dasar perjalanan kabilah dera hati dan waktu yang dinanti. Haruskah aku mengejar waktu yang sempat kau janjikan. Atau aku cukup menjadi penyelam yang berdayung di jiwa dan hadirmu.
Inilah samudra yang kau tawarkan padaku.
Inilah sajakku yang ku cipta sampan kecil.
Ku titipkan dayung cinta kita padamu.
Akankah kau tenggelamkan aku. Atau akan selamatkan aku dalam jelma udara dan rahasia di balik dinding do’a dan taqarrub kita. Tuk gapai halaman-halaman dalam kamar pengantin.

Yogyakarta, 6. Agustus.2011. 00:32 (ruang tafakkur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar