Lima hari sudah, panas kemarau menginap dikeningku.
:Bersediakah, engkau basahi keningku dengan sejuknya airmatamu? — with Jhody M. Adrowi.
dalam laman hidup ini. kita telah merajut kisah dari awal do'a dan pertemuan kita. cinta telah teranugerahkan. hingga kitapun menyejarah dalam sekian malam, hari, pagi, siang dan senja. segalanya adalah perjamuan kita. dimana air mata telah membasuhnya. semoga bertandan suci kesucian kasih.
Senin, 25 Maret 2013
Tersebab terlalu merindumu, demam enam hari ini pun enggan berlalu. — with Jhody M. Adrowi.
Lihatlah suamiku, tatapan mataku terlihat sayu, lantaran tertawan rasa rindu padamu. — with Jhody M. Adrowi.
Duhai lelaki hujan, apakah senja ini langitmu sedang mengandung kerinduan?
'Sungguh, aku rindu kebersamaan kita saat menyaksikan tetes hujan dihalaman rumah dengan jemari tangan kita saling bertautan.':Hal itu sesuatu yang sangat menyenangkan, bukan? — withJhody M. Adrowi.
Ingin aku merebahkan lelahku dipundakmu, memejamkan mataku yang basah, dan mengadukan kerinduan yang menyayat jantungku.
:Baiklah aku selimuti saja senyummu dan kepeluk sampai kemimpi.
Tapi jangan lupa, kecupi aku pagipagi sekali.
'Ingat ya cinta, pagipagi sekali' — with Jhody M. Adrowi.
:Baiklah aku selimuti saja senyummu dan kepeluk sampai kemimpi.
Tapi jangan lupa, kecupi aku pagipagi sekali.
'Ingat ya cinta, pagipagi sekali' — with Jhody M. Adrowi.
Maafkan aku, puisiku. Kini aku bersetubuh dengan rindu, yang detaknya hanya mendesah namamu.
:Mengertikah kau, lelaki yang kurindu selalu?
'Disaat aku merindukanmu, menatap rintik hujan ternyata mampu membentuk segurat senyuman diantara airmata yang mengalir perlahan.' — with Jhody M. Adrowi.
:Mengertikah kau, lelaki yang kurindu selalu?
'Disaat aku merindukanmu, menatap rintik hujan ternyata mampu membentuk segurat senyuman diantara airmata yang mengalir perlahan.' — with Jhody M. Adrowi.
Duhai suamiku, dari dulu engkau tak pernah lupa selalu mengajakku menimang malam dengan pesona cinta yang mewangi surga. — with Jhody M. Adrowi.
Terima kasih, suamiku.
:Telah menjadikan aku bidadari tercantikmu dan mendudukanku dalam istana terindah dihatimu.
Kau tau?
Airmataku dulu yang jatuh, kini menjadi kedamaian yang teduh.
'Kini akulah pemegang cinta dalam kalam Ar Rahman yang telah engkau persembahkan' — with Jhody M. Adrowi.
:Telah menjadikan aku bidadari tercantikmu dan mendudukanku dalam istana terindah dihatimu.
Kau tau?
Airmataku dulu yang jatuh, kini menjadi kedamaian yang teduh.
'Kini akulah pemegang cinta dalam kalam Ar Rahman yang telah engkau persembahkan' — with Jhody M. Adrowi.
'Selamat pagi duhai lelaki yang cintanya telah kumiliki.'
:Kau tau, aku baru saja menyapa mentari dengan sebutan namamu. Mendaratkan kecupan manis dikening doaku.
Sesaji puisi untukmu, dijum'at pagi yang merindu- Jhody M. Adrowi.
:Kau tau, aku baru saja menyapa mentari dengan sebutan namamu. Mendaratkan kecupan manis dikening doaku.
Sesaji puisi untukmu, dijum'at pagi yang merindu- Jhody M. Adrowi.
Senin, 11 Maret 2013
Terlafal Rubaiat di Detak Dada
Maskawin
71
Selekat
ceritra
Tergambar
namamu dari belai helai lentikmu, menariku di gambar hikayah munajatmu
Aku
beradu syahdu bersama rubaiatmu, serangkai tangkai alismu dibendung senandung
bahar.
Kutujukan
ziarah sumsumku, senada randu namaku dijalar nadimu
Ku
kabar bak ku tebar segala paras yang melakoni redu redam aksara tasyahhudmu
Dan
i’tidal jarak kita adalah alamat relung bahasa kita yang disebut rindu
Inilah
rubaiatku, ku tersadar. Terambat di dadamu, adalah hasrat seranum kejora pada
bingkisin malam.
Jakarta, 22-02-13.
Kita Yang Melembar Do’a
Maskawin
70
Kita
susun bersama do’a-do’a ini, kau yang menabur bunga di raup wajahku, yang kau
petik dari setiap helai air matamu
Ku
pungut tuturmu dari persujudan kecil ini, hingga disetiap engkau melafalkan
nafas, disana aku sedang menghirup segar-segar.
Lalu
berucap:
Iniah
istana kita, teratap segara dadamu, berhalaman lembut tanganmu, bersejadah
lembaran perihal tabur tutur do’a kita.
Jakarta, 22-02-13. 23:27
Kunamai Sajakku Atas Bingkisan Air Mata
Maskawin
69
Ku
kabarkan padamu tentang aksara yang ku eja dari belahan purnama
Di
matamu ku baca sajak namaku, kau menebarnya disetiap detak jantungmu menziarahi
sekujur tubuhku.
Aku
tak mampu diam, seisi kepalaku adalah engkau yang terus hidup, bertawaf sakral
bersama roma roman tasbihmu
Kau
tak henti ajariku menakar baiat rindu, sampai aku terlupa akan musabab awal
dimana kita diepertemukan.
Nyatanya
kau lebih indah bila ku pandangi dari kaligrafi sajal-sajakku.
Jakarta, 22-02-13.
23:22
Ku Hilirkan Do’a Bersajak Asma’ Sang Gusti.
Maskawin 68
Al-Fatihah... Di sini ku sedang merenung. Mencari alamat dari sesat jiwaku yang sedang merambah penuh noktah. Kau hadirkan ia yang indah, dari percik cahayaMu, kau sandangkan ia sebagai persandingan yang agung. Kau cipta aku sebagai pengganti tulang rusuknya, hingga dapat aku mengimaminya disaat kewajiban harus tertunai. Bingbinglah kamai ya, Rabb. Kami yang masih jahil atas ilmumu, yang kadangkala merasup angkuh menjadi kekutaan. Ajari kami bertutur, meski tak seindah wahyumu, lantaran lisan yang benar, adalah kebenaran yang Kau sampaikan. Lembutkan hati kami, yang kadang bungkam bercelah, gersang penuh cadas. Basahi kami dengan anugerah, rahmat beserta inayahaMu, hingga kami dapat menata langkah di atas jalan yang berbunga. Zawjaty...!!! perpisahan kita terlalu lama di banding pertemuan. Segeralah kita petik atas tunai asma’ cinta, selayaknya kasih bila harus bersama. Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 14:12
Terbukalah Pintu Sebagai Cinta
Maskawin
67
Zawjaty....!!!
inilah rukun cinta, yang dapat kita buka sebagai pintu menuju singgasana.
Saling
mengasihi, hingga nama kita terlahir sama sebagai cinta
Menabur
bahasa indah, lantaran ialah tatakrama yang dapat kita baca sebagai ceritra
Setia
mendampingi, karena disanalah kita dapat memetik cahaya, dan tak ada lagi,
cahaya yang kan silaukan kita. Karena kitalah sempurna dari ikhlas
masing-masing.
Saling
mendekap, lantaran keseimbangan cinta, adalah diri kita yang senantiasa
menjaga. Hingga hidup adalah makna dari utuh yang sahaja.
Rebahlah,
Zawjaty...
Ku
ajak engkau menyilang tubuhku, hingga desah nafasmu dapat aku tata sebagai
keikhlasan. Dan ku sandang tubuhmu, hingga geliat hidup dapat kita rengkuh
bersama.
Kamar Tafakkur III.
10.2.13. 14:00.
Dari Tatakrama tasbih Ku Ajak Engkau Mencari.
Maskawin
66
Bila
dapat aku lucuti, setiap sisi dari tubuhmu, akan ku sampaikan pada hujan, bahwa
kaulah yang paling basah dari setiap rintiknya. Sebagai melati, ku rangkai
engkau dengan benang dari pintal tanganku, dan ku sampaikan sebagai teguk wangi
yang murni.
Engkaulah
yang luhur, menyingkap udzur pada setiap kita sedang bertadabbur, dan inilah
syukur dari buah benihmu yang menutur.
Bila
kau ingat, kisah dari para leluhur, hormati pasanganmu, seperti engkau yang
sedang menakar musyhaf-musyhaf dari ejamu. Dan dekaplah kasihmu, bak engkau
sedang menata setiap hijaiyah dari cahaya wahyu.
Karena
di hati pasanganmulah engkau akan merebah. Rebah paling panjang dari usiamu
yang pernah kau lawati.
Dan
kesetiaan adalah hidup yang dapat tersandar dari usia sadar yang kita sebut
sebagai tiang yang mencagak dari kuat cinta. Yaitu cinta kita, Zawjaty.
Kamar Tafakkur III.
10.2.13. 13:45.
Masyafah Nan Mengalung di Sapa kita
Maskawin
65
Saat
kau disana, aku menahan gigil disini, sembari mencari wajahmu yang kadang
berhamburan di sujudku.
Hingga
ku temukan engkau di antara lelap. Mengecup ingatanku akanmu, dan kau menyampai
salam dari padang ilalang di gulita yang bermata air matamu.
Muaraku
adalah namamu yang ku sandang sebagai ijabah, hingga basah rinduku adalah engkau
yang sedang berdiam dari masyafah sapa tak tersua.
Gersang
yang tertanam tanpa dekapmu.
Larvakan
aku dari kaku yang kilu. Kadang kala sesaat tersesat mencari gelakmu saat
menggeliat.
Dimana
atur tuturmu dapat aku jamah sebagai alur yang utuh.
Senantiasa
engkaulah ruh cintaku yang tertakat lekat dari pekat yang tersekat tubuh malam.
Dan
akulah nahkodamu yang dapat kau tungkangi sebagai pahat di rusuk tulangmu.
Kamar Tafakkur III.
10.2.13. 13:34
Eja Manjamu yang Ku Sebut
Maskawin
64
Bila
ku dekati engkau, engkau berlari sembari riang tertawa, lalu kau mengejarku dan
mencubit bagian tubuhku.
Hingga
kau pun mendekapku. Dan itulah yang ku sebut engkau sebagai sajak.
Bila
aku duduk di sofa itu, kau datang menghampiri, sembari membawakan segelas kopi
hangat dengan cangkir khusus untukku, lalu kau duduk di sampingku. Sesekali kau
minta aku menuangkannya untukmu.
Sabdamu
menjalar menuju bibirku, sandar tubuhmu di pundakku sebuah hangat yang
meranjang dari tepian hari, itulah yang ku sebut engkau sebagai puisi.
Bila
kopi itu mulai dingin, kau dengan cepat menghabiskannya, tanpa sisa untukku.
Lalu kau lari ke dalam kamar, dan di sanalah ku sajak engkau sebagai roman
paling ranum. Dan rindingmu dapat aku lihat dari titik-titik di kulit tanganmu
yang kau tunjukkan padaku.
Kamar Tafakkur III.
10.2.13. 13:07.
Malam Penuh Kehangatan
Maskawin
63
Di
tempat itulah, di ranjang yang bertabur wangi tubuhmu aku bersuara. Menyapamu
penuh makna.
Kau
menyebut namaku sebagai nobatmu yang kau tuturkan dari arah nafas yang tergerak
di dadamu.
Kau
tersenyum indah, meraba wajahku beserta kecupan ternikmat. Malam seperti tak
akan usai, hingga kita ingin menyulap subuh, menjadi dini dalam ruang yang
indah.
Kaulah
purnama kala itu, menatapmu seperti melihat syurga meski tak bernama, lantaran
namamu adalah aku yang kau sebut sebagai kekasih.
kita
sambangi arah yang tak biasa
menemukan
sudut air mata yang merintik di daun alismu
lalu
ku sapa engkau, dengan darah yang ku alirkan lewat doa’-do’aku.
Kamar Tafakkur III. 10.2.13.
12:52
Dasawarsa yang Kedelapan Dari Usia Sakral
Maskawin
62
Pagi
yang buta, menjegah kita dari azar yang tumbuh atas usap takdir
Kau
beradu membangunkanku, memanggil nama yang kiranya akan bertemu dalam dekap
imamah.
Kau
berdandan...
Bersiap
memapah ratu bermahkota itar cinta
Ku
temani engkau, mengajakmu berbincang-bingcang. Hingga gelegar siang menyeru
kita menatap masa.
Kita
duduk bersama, ku bahasakan peneriman akanmu sebagai bidadari duniaku, yang
kelak kaulah ratu akhiratku.
Terik
merubah senyum semakin bermakna, kau bukan lagi kamu, tapi adalah kamu yang ku
susun dari hijaiyah itu, qabiltu. Ku
terima engkau dari segala arahku, memapahmu menuju istana termegah, dan kaulah
melati yang tersusun dari bakti niscayamu.
Kau
cium tanganku, itulah kecup terhangat paling sakral yang dapat aku sampaikan
sebagai keridlaan.
Kamar Tafakkur III. 10.2.13.
12:45
Kembara Yang Melintang di Matamu
Maskawin
61.
Kembali,
aku belajar menata tapak tatihmu. Sembari memapahmu dari tepian keping hatiku
yang terlawat sebagai namamu. Tulislah sebagaimana engkau bersajak. Bacalah dimana
engkau merenungkan tasbihmu. Hingga getar di dadamu adalah hidup yang tertawar
atas nama baiat suci tentang nama kita.
Kau
telah izinkanku memiliki jiwamu. Meski kadang aku harus berlarian. Aku masih di
sini. Merenung engkau yang terkadang diam membisu, lalu berkata tanpa jeda.
Jika
kelak air mata yang menggaris di pipimu
Dapat
aku teguk kala hausku
Maka
mendekatlah, tanpa ada batas barang sekedip mata indahmu itu.
Kamar Tafakkur III.
10.2.13. 12:13.
BERJALANLAH ENGKAU. BIARKAN MASA PADA KAIDAHNYA
Maskawin 60
Detik adalah langkah,
dimana setiap diri tak tertampik dari rayu waktu.
Maka berdirilah di
sampingku. Jangan hitung usiamu, lantaran hanya kematian yang memisahkan raga
kita. Berharap, kelak di syurgaNya kaulah bidadariku paling anggun. Akan ku
tegukkan cawan susu padamu, dan kumandikan engkau dengan rayu paling madu di
sungai madu. Sampai engkau harus meneteskan air mata bila melepasku.
Tidurlah di bahuku, kan
ku dekap bahumu, ku nyanyikan lagu tentang rindu, tentang sahaja waktu rindu,
tentang dawai semai yang ingin aku titipkan pada setiap kau menghirup nafas.
Mendekatlah, sayang.
Sampai sekat hanya
kelebat dari gulita, dan kaulah bercah-bercah yang rona. Menggiring syair ilir
di alir nadiku. Genggan jantungku, dan rasakan setiap getarnya, adalah engkau yang
riuh merukuk sujud. Dan ziarahi batinku, adalah engkau yang sedang menyiapkan
perjamuan-perjamuan malam.
Malam ini begitu gigil,
sayang. Mendekatlah. Rapatkan tubuhmu di dadaku. Dan damailah. Karena esok,
adalah hari baru. Dimana salju bukan lagi dingin yang menggigit, karena akulah
kehangatan yang akan selalu kau sebut sebagai alas rebahmu. Dan kaulah mahkota
dari singgasana beratap purnama.
Kamar
Tafakkur III. 14 November. 2012. 21:37.
TARI MENARIKU BERSAMA SENANDUNGMU
Maskawin 59.
Sayang....!
Aku telah memungut
restu dari telapak tangan ibu dan bapakmu, ku cium tangannya bak rangkaian azimat
yang keramat. Dan ingin ku bawa engkau menari bersamaku dari ujung malam.
Hingga kita akan sama-sama menarik tembang paling suci yang kita cipta dari
setiap kita menuliskan kata rindu. Dan izinkan aku mengecup keningmu. Sedalam
kau tanamkan do’a tentangku di tafakkur sajak do’amu.
Kalungkan selendang
ini. Liutkan jemari dan tubuhmu, akan ku sambut engkau bersama dengting gamelan
dari gemerincik hujan, ku basahkan tubuhmu. Hingga piawaimu dapat ku jelajahi.
Ku hisap sari asrimu. Hingga madu sendumu dapat ku teguk dari segala arah
erotismu.
Dan sampaikan pada
surat di dadamu
Akulah yang sedang mengukir
tubuhmu. Lantaran setiap lekuknya adalah kata yang harus aku terjemahkan dengan
piawai, dan sajakku masih tak cukup menafsirkannya.
Kamar
Tafakkur III. 14 November 2012. 21:17.
KU TELAGAKAN SAJAKKU DI BENING AIR MATAMU
Maskawin 58
Berulangkali.
Itar kata dan liut
tubuhku terkayuh dari ragamu. Hingga batinmu membuncah darah lara luka.
Sesampai engkau membidik biduk kilu yang berhamburan. Kau ukir senja dengan
goresan penamu yang kau susun dari setiap air matamu. Dan kau merengkuh, di
titik nadir yang teralir ilir tembang geming. Bak engkau berteriak di segara
yang masih menempa batu-batu cadas.
Ku merunduk tunduk.
Di antara petak sejadah
permadaniku yang lusuh, ku basuh rona roma yang telah berkeping-keping. Kadang
tak mampu ku tata. Sampai lukamu makin membuncah. Dan kutawarkan sejuta iringan
do’a. Dan engkaupun seakan beranjak lari dari binar biduri. Dan akulah yang
termangu menawafkan puisi.
Di sini
Ijinkan ku sucikan
puisiku lewat keramat air matamu. Hingga beningnya adalah basuhan tersuci yang
ku miliki. Dan maafkan aku yang mengelana pada setiap denah luka yang tersayat
lawat pita gita rindu. Dan telagalah sajakku. Karena setiap aksaranya ku petik
dari setiap kau butirkan percik alir air matamu.
Kamar
Tafakkur III. 14 November. 2012. 16:47.
DI NAMPAN MALAM KITA MENGALAMAT
Maskawin 57
Engkau memanggilku dari
balik pintu kala malam itu. Kau mencariku. Mengajakku serta memintaku memandikanmu dengan serampai bunga
yang telah kau petik dari halaman rumahmu.
Kita pun sama-sama menodai malam.
Kau bergeleyut di
tubuhku yang sedang merebah panjang. Engkau mulai menata hasratmu dari seluruh
desir yang memangu tari geliatmu. Kau seperti kehilangan dirimu, lantaran akulah
yang kau tiupkan nafas dari getar dadamu.
Kau memelukku. Melewati
setiap baris yang melajur tubuhku. Hingga tibalah engkau pada gemerincik tajuk
yang memaku di antara dadaku. Kau terus mencari, hingga panas tubuhmu menjadi
gigil paling dahaga nelaga. Dan ku mandikan engkau dengan geliatku, sampai
wajah basahmu adalah anggun yang mengapung birahimu dan buncahku.
Kamar
Tafakkur III. 14 November 2012. 16:26.
TARIKU MENARI MADU BIBIRMU II
Maskawin
56
“Bawakan ini”. Katamu manja
Sungguh ku terdebar
getar di dampar dadaku, suaramu begitu merakit ukir di dendang telingaku. Suara
indah tanpa iringan tiupan seruling. Seakan kau menembang bahar dari
kitab-kitab.
Aku berdiri di
sampingmu, bak aku adalah raja yang telah mendapatkan tahta, dan kau adalah
mahkota yang tersulam dari manik-manik intan pusaka. Jantungku mengalamat
degup. Dari rundukku ku curi ranum wajahmu. Dan indahmu tersemat dari setiap
ukir senyummu.
Kita pun sama-sama
menghirup senja. Dan kita mulai merangkai alir ilir kata. Kita duduk bersama, menulusuri
pelabuhan randu.
Ku genggam tanganmu,
seperti darahku mengalir deras, engkau pun
menggenggamnya erat, menata jemari jarimu di jariku.
Kita mulai mencuri
kecupan, kecupan pertama yang hangat menggiring malam dengan nikmat terhangat.
Hingga tiba dimana nikmat mengulum di seluruh tubuhku. Kau seperti kehausan di
padang dadaku. Ku ijinkan engkau menikmati setiap tataan tubuhku. Matamu
terpejam, menahan nikmat teramat. Dan ku tutup tubuhmu dengan selendang yang
terkalung di lehermu. Kita sama-sama terdampar di desah panjang nan lapang.
Hah.....!.
Kamar
Tafakkur III. 14 Novermber. 2012. 16 :14
TARIKU MENARI MADU BIBIRMU I
Maskawin 55
Jengah menempa. Ku
berdiri melewati kejumutan rasa. Membentang tubuhku dari kota yang menghias
lampu-lampu. Pada setiap persimpangan aku titipkan do’a, hingga jamuan
pertemuan kita dapat terhantar dari arah dimana janji mengukir namaku dan
namamu.
Ku titipkan pada setiap
matahari menampar wajahku. Dan kilu mataku berkedip, mencari wajahmu. Hingga
senandungku tetap ku sandungkan pada tanya yang merayap dari ujung rambutku. Ku
susun ingatanku, sampai jejak kakiku hilang di bawah pepohon yang gersang.
Aku duduk merangkai
tatapanku. Ziarahkan tanyaku kembali. Dimanakah dirimu. Bisakah aku
mengenalimu. Meraba wajah anggunmu. Dan kau mencium tanganku.
Jariku menggetarkan
puisi
Kakiku memijak paku
bumi
Tubuhku tersandar di
pojok pikirku
Terus ku mencarimu dari
semerbak wangimu yang kau titip pada setiap purnama menimang wajahmu. Lalu ku
temukan engkau.
Dan senyummu merangkai
tangkai di desir nadi ari-ariku.
Kamar
Tafakkur III. 14 November 2012. 15:53
SESUCI JILBABMU NENUJU TEDUHKU
Maskawin
54
Di palataran masyafah
sajakku, ku kirim karangan rindu di sebalik teduh jilbabmu, ku hantar ribuan
salam pada setiap percik hujan di hari ini, gemerinciknya membangunkanku dalam
gigil. Sejenak ku duduk, ingin rasanya memelukmu.
Dekap yang lekat. Ingin
ku kalungkan tanganku di tubuhmu, ku telusuri setiap lekukan yang menatar tatar
candumu. Terpejam di hangat yang melekat. Ku alirkan darahku menuju lidahmu
yang menari dari arah kau tasbihkan sajak-sajakku. Hingga ikat benang desahmu
dapat ku anyam dalam tenang.
Segenggam air wudluk
kau basuhkan di keningku. Sampai kau telusuri lekukan tubuhku di segara yang memetak
sungging senyummu. Tatap matamu mengajakku manari di atas dipan-dipan megah.
Menghantarkan geliat panjang dari berkas senja yang menggaris di lehermu.
Ku itari lehermu yang
berutas rayu-rayuan
Sampai ku tanamkan
bercak saksi dimana kau telah taburkan percikan desahmu. Dan aku pun menimangmu dari sebalik jilbabmu di
dendang sajakku.
Kamar
Tafakkur III 14 November 2012. 15:40
KITA DALAM PERCAKAPAN WAKTU
Maskawin 53
Waktu telah melahirkan sekian ceritra, dari ronta yang terkais atas
makna nama kita, kita terlahir dari tubuh yang sempurna, tumbuh dalam lanskap,
menuju denting detik yang terpetik pada setiap diri menyulam salam kelam, dan
gurat cahaya melintas pada utas pijar do’a kita.
Dari gurun ke pantai, waktu membius jendela jiwa-jiwa kita, hingga
sudut terindah terbaca pada setiap bening mata yang menuju sempurna.
Bila ku lihat wajahmu
Serasa jelek diri ini, waktu pun tak jua menjelaskan dengan
sempurna, bagaimana aku temukan ini
Hingga saat aku berdiam di atas ranjang berdupa, engkau mengecup
pipiku dengan tutur sajak yang lahir dari bisikmu di malam yang panjang.
Bahwa akulah untuk masa depanmu.
Percakapan sekian waktu, telah melintang dari bentang gemintang,
bertebar di debar degub jantungku yang larut dalam jantungmu.
Dan kita terus meniti jembatan rindu ini, hingga mahkota yang suci
dapat kau persembahkan untukku utuh. Dan waktu telah terjabar.
Tuhan, darah kami terbatas, nafas kami tak mungkin cukup
menjelajahi waktu sampai titik nadirnya, utuhkan kami menjadi satu, utuh
terindah sebagai hamba, hingga percakapan kami adalah tutur waktu yang suci, lewat
bahar mahar ini menujumu.
Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 18:39.
IZINKAN AKU, BAPAK
Maskawin 52
Telah ku sampaikan tentang kabarnya padamu, dan engkau masih
melukis jeda, Bapak. Engkau yang dulu menggendongku, saat aku terkuali lemah,
hingga haru ibu membatas hujan, lantaran aku seakan tak lagi mampu tempuh hidup
ini. Engkau tahu saat pertama aku menatap matahari. Engkau pun mengerti
saat engkau membuat air mata ini mendanau di atas rangkaian musyhaf.
Alir keruh keringatmu telah mengukir tubuhku, dan langkahmu
tertulis jelas dalam sejarahku.
Kini, izinkan aku membawanya kehadapanmu, hingga aku bisa melukis
tubuhku dalam tubuhnya, dan aku akan ukirkankan sejarah paling indah, dan bulan
pun tak sanggup menawarnya.
Ijinkan aku mengecup keningnya di hadapanmu. Saat engkau bersilah
dengan nikmat khusyuk.
Hingga kesucian yang kau balutkan atas keningku, dapat aku taburkan
dalam persemedian rakhimnya, dan engkau akan tersenyum, dengan janji syurga
yang kau ajarkan pada setiap usiaku menutur waktu.
Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 17:19.
SAAT AKULAH TUBUHMU
Maskawin 51
Biarlah keringatmu menggenang di tapak tanganku.Ijinkan aku menghirup aroma sedalam qalam atas wadah runcing penaKu teguk sabdamu dengan bismillah, hingga terselam jiwaku pada
samudra yang meluas namamu. Beri aku kepak riuh sayap dadali, mengingat sahaja senja yang kan
terlukis di baris bibirmu. Hingga dapat ku hirup wangi subur bumi lahirmu
dengan taburan kenanga, dan ku mandikan engkau dengan secanting melati dari
bumi lahirku. Akan ku peluk erat alammu dengan sejuta gigil dari rumus lelap dedaun di
antara tubuhmu. Kecup tanganku, dengan ziarah wangi nafasmu, hingga engkau menemukanku
bukan lagi sebatas nama, tapi engkau akan memapahku sebagai pemikat tubuhmu.
Jangan berlarian, bersandinglah, hingga angin pun akan
menangis dengan deretan kecemburuannya. Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 17:01.
Langganan:
Postingan (Atom)















