Maskawin 58
Berulangkali.
Itar kata dan liut
tubuhku terkayuh dari ragamu. Hingga batinmu membuncah darah lara luka.
Sesampai engkau membidik biduk kilu yang berhamburan. Kau ukir senja dengan
goresan penamu yang kau susun dari setiap air matamu. Dan kau merengkuh, di
titik nadir yang teralir ilir tembang geming. Bak engkau berteriak di segara
yang masih menempa batu-batu cadas.
Ku merunduk tunduk.
Di antara petak sejadah
permadaniku yang lusuh, ku basuh rona roma yang telah berkeping-keping. Kadang
tak mampu ku tata. Sampai lukamu makin membuncah. Dan kutawarkan sejuta iringan
do’a. Dan engkaupun seakan beranjak lari dari binar biduri. Dan akulah yang
termangu menawafkan puisi.
Di sini
Ijinkan ku sucikan
puisiku lewat keramat air matamu. Hingga beningnya adalah basuhan tersuci yang
ku miliki. Dan maafkan aku yang mengelana pada setiap denah luka yang tersayat
lawat pita gita rindu. Dan telagalah sajakku. Karena setiap aksaranya ku petik
dari setiap kau butirkan percik alir air matamu.
Kamar
Tafakkur III. 14 November. 2012. 16:47.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar