Senin, 11 Maret 2013

KU TELAGAKAN SAJAKKU DI BENING AIR MATAMU



Maskawin 58

Berulangkali.
Itar kata dan liut tubuhku terkayuh dari ragamu. Hingga batinmu membuncah darah lara luka. Sesampai engkau membidik biduk kilu yang berhamburan. Kau ukir senja dengan goresan penamu yang kau susun dari setiap air matamu. Dan kau merengkuh, di titik nadir yang teralir ilir tembang geming. Bak engkau berteriak di segara yang masih menempa batu-batu cadas.
Ku merunduk tunduk.
Di antara petak sejadah permadaniku yang lusuh, ku basuh rona roma yang telah berkeping-keping. Kadang tak mampu ku tata. Sampai lukamu makin membuncah. Dan kutawarkan sejuta iringan do’a. Dan engkaupun seakan beranjak lari dari binar biduri. Dan akulah yang termangu menawafkan puisi.
Di sini
Ijinkan ku sucikan puisiku lewat keramat air matamu. Hingga beningnya adalah basuhan tersuci yang ku miliki. Dan maafkan aku yang mengelana pada setiap denah luka yang tersayat lawat pita gita rindu. Dan telagalah sajakku. Karena setiap aksaranya ku petik dari setiap kau butirkan percik alir air matamu.

Kamar Tafakkur III. 14 November. 2012. 16:47.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar