Rabu, 03 April 2013


Jarum jam itu, serupa rinduku yang ditiap menitnya berputarputar berusaha menemuimu, duhai suamiku. — with Jhody M. Adrowi.

 


coment: semoga kita istiqamah dalam menafsir jalan jarak ini zawjaty, Elaine Firdausza, hngga detak nada jantung kita dapat merapat pada hitungan masa tentang perjumpaan kita.2 hours ago · Edited · Like · 



Senin, 25 Maret 2013

Lima hari sudah, panas kemarau menginap dikeningku.

:Bersediakah, engkau basahi keningku dengan sejuknya airmatamu?
 — with Jhody M. Adrowi.
Tersebab terlalu merindumu, demam enam hari ini pun enggan berlalu. — with Jhody M. Adrowi.
Lihatlah suamiku, tatapan mataku terlihat sayu, lantaran tertawan rasa rindu padamu. — with Jhody M. Adrowi.

Duhai lelaki hujan, apakah senja ini langitmu sedang mengandung kerinduan?
'Sungguh, aku rindu kebersamaan kita saat menyaksikan tetes hujan dihalaman rumah dengan jemari tangan kita saling bertautan.':Hal itu sesuatu yang sangat menyenangkan, bukan? — withJhody M. Adrowi.

Ingin aku merebahkan lelahku dipundakmu, memejamkan mataku yang basah, dan mengadukan kerinduan yang menyayat jantungku.

:Baiklah aku selimuti saja senyummu dan kepeluk sampai kemimpi.

Tapi jangan lupa, kecupi aku pagipagi sekali.

'Ingat ya cinta, pagipagi sekali'
 — with Jhody M. Adrowi.
Maafkan aku, puisiku. Kini aku bersetubuh dengan rindu, yang detaknya hanya mendesah namamu.

:Mengertikah kau, lelaki yang kurindu selalu?

'Disaat aku merindukanmu, menatap rintik hujan ternyata mampu membentuk segurat senyuman diantara airmata yang mengalir perlahan.'
 — with Jhody M. Adrowi.
Duhai suamiku, dari dulu engkau tak pernah lupa selalu mengajakku menimang malam dengan pesona cinta yang mewangi surga. — with Jhody M. Adrowi.
Terima kasih, suamiku.

:Telah menjadikan aku bidadari tercantikmu dan mendudukanku dalam istana terindah dihatimu.

Kau tau?
Airmataku dulu yang jatuh, kini menjadi kedamaian yang teduh.

'Kini akulah pemegang cinta dalam kalam Ar Rahman yang telah engkau persembahkan'
 — with Jhody M. Adrowi.
'Selamat pagi duhai lelaki yang cintanya telah kumiliki.'

:Kau tau, aku baru saja menyapa mentari dengan sebutan namamu. Mendaratkan kecupan manis dikening doaku.

Sesaji puisi untukmu, dijum'at pagi yang merindu- Jhody M. Adrowi.

Senin, 11 Maret 2013

Terlafal Rubaiat di Detak Dada



Maskawin 71

Selekat ceritra
Tergambar namamu dari belai helai lentikmu, menariku di gambar hikayah munajatmu
Aku beradu syahdu bersama rubaiatmu, serangkai tangkai alismu dibendung senandung bahar.
Kutujukan ziarah sumsumku, senada randu namaku dijalar nadimu
Ku kabar bak ku tebar segala paras yang melakoni redu redam aksara tasyahhudmu
Dan i’tidal jarak kita adalah alamat relung bahasa kita yang disebut rindu

Inilah rubaiatku, ku tersadar. Terambat di dadamu, adalah hasrat seranum kejora pada bingkisin malam.

Jakarta, 22-02-13.

Kita Yang Melembar Do’a




Maskawin 70

Kita susun bersama do’a-do’a ini, kau yang menabur bunga di raup wajahku, yang kau petik dari setiap helai air matamu
Ku pungut tuturmu dari persujudan kecil ini, hingga disetiap engkau melafalkan nafas, disana aku sedang menghirup segar-segar.
Lalu berucap:
Iniah istana kita, teratap segara dadamu, berhalaman lembut tanganmu, bersejadah lembaran perihal tabur tutur do’a kita.

Jakarta, 22-02-13.  23:27


Kunamai Sajakku Atas Bingkisan Air Mata



Maskawin 69

Ku kabarkan padamu tentang aksara yang ku eja dari belahan purnama
Di matamu ku baca sajak namaku, kau menebarnya disetiap detak jantungmu menziarahi sekujur tubuhku.
Aku tak mampu diam, seisi kepalaku adalah engkau yang terus hidup, bertawaf sakral bersama roma roman tasbihmu
Kau tak henti ajariku menakar baiat rindu, sampai aku terlupa akan musabab awal dimana kita diepertemukan.
Nyatanya kau lebih indah bila ku pandangi dari kaligrafi sajal-sajakku.


Jakarta, 22-02-13. 23:22

Ku Hilirkan Do’a Bersajak Asma’ Sang Gusti.


           Maskawin 68 

Al-Fatihah... Di sini ku sedang merenung. Mencari alamat dari sesat jiwaku yang sedang merambah penuh noktah. Kau hadirkan ia yang indah, dari percik cahayaMu, kau sandangkan ia sebagai persandingan yang agung. Kau cipta aku sebagai pengganti tulang rusuknya, hingga dapat aku mengimaminya disaat kewajiban harus tertunai. Bingbinglah kamai ya, Rabb. Kami yang masih jahil atas ilmumu, yang kadangkala merasup angkuh menjadi kekutaan. Ajari kami bertutur, meski tak seindah wahyumu, lantaran lisan yang benar, adalah kebenaran yang Kau sampaikan. Lembutkan hati kami, yang kadang bungkam bercelah, gersang penuh cadas. Basahi kami dengan anugerah, rahmat beserta inayahaMu, hingga kami dapat menata langkah di atas jalan yang berbunga. Zawjaty...!!! perpisahan kita terlalu lama di banding pertemuan. Segeralah kita petik atas tunai asma’ cinta, selayaknya kasih bila harus bersama.  Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 14:12

Terbukalah Pintu Sebagai Cinta



            Maskawin 67

Zawjaty....!!! inilah rukun cinta, yang dapat kita buka sebagai pintu menuju singgasana.

Saling mengasihi, hingga nama kita terlahir sama sebagai cinta
Menabur bahasa indah, lantaran ialah tatakrama yang dapat kita baca sebagai ceritra
Setia mendampingi, karena disanalah kita dapat memetik cahaya, dan tak ada lagi, cahaya yang kan silaukan kita. Karena kitalah sempurna dari ikhlas masing-masing.
Saling mendekap, lantaran keseimbangan cinta, adalah diri kita yang senantiasa menjaga. Hingga hidup adalah makna dari utuh yang sahaja.

Rebahlah, Zawjaty...
Ku ajak engkau menyilang tubuhku, hingga desah nafasmu dapat aku tata sebagai keikhlasan. Dan ku sandang tubuhmu, hingga geliat hidup dapat kita rengkuh bersama.


Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 14:00.

Dari Tatakrama tasbih Ku Ajak Engkau Mencari.



            Maskawin 66

Bila dapat aku lucuti, setiap sisi dari tubuhmu, akan ku sampaikan pada hujan, bahwa kaulah yang paling basah dari setiap rintiknya. Sebagai melati, ku rangkai engkau dengan benang dari pintal tanganku, dan ku sampaikan sebagai teguk wangi yang murni.
Engkaulah yang luhur, menyingkap udzur pada setiap kita sedang bertadabbur, dan inilah syukur dari buah benihmu yang menutur.

Bila kau ingat, kisah dari para leluhur, hormati pasanganmu, seperti engkau yang sedang menakar musyhaf-musyhaf dari ejamu. Dan dekaplah kasihmu, bak engkau sedang menata setiap hijaiyah dari cahaya wahyu.
Karena di hati pasanganmulah engkau akan merebah. Rebah paling panjang dari usiamu yang pernah kau lawati.
Dan kesetiaan adalah hidup yang dapat tersandar dari usia sadar yang kita sebut sebagai tiang yang mencagak dari kuat cinta. Yaitu cinta kita, Zawjaty.

Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 13:45.

Masyafah Nan Mengalung di Sapa kita



            Maskawin 65

Saat kau disana, aku menahan gigil disini, sembari mencari wajahmu yang kadang berhamburan di sujudku.
Hingga ku temukan engkau di antara lelap. Mengecup ingatanku akanmu, dan kau menyampai salam dari padang ilalang di gulita yang bermata air matamu.
Muaraku adalah namamu yang ku sandang sebagai ijabah, hingga basah rinduku adalah engkau yang sedang berdiam dari masyafah sapa tak tersua.

Gersang yang tertanam tanpa dekapmu.

Larvakan aku dari kaku yang kilu. Kadang kala sesaat tersesat mencari gelakmu saat menggeliat.
Dimana atur tuturmu dapat aku jamah sebagai alur yang utuh.
Senantiasa engkaulah ruh cintaku yang tertakat lekat dari pekat yang tersekat tubuh malam.
Dan akulah nahkodamu yang dapat kau tungkangi sebagai pahat di rusuk tulangmu.


Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 13:34

Eja Manjamu yang Ku Sebut



Maskawin 64

Bila ku dekati engkau, engkau berlari sembari riang tertawa, lalu kau mengejarku dan mencubit bagian tubuhku.
Hingga kau pun mendekapku. Dan itulah yang ku sebut engkau sebagai sajak.

Bila aku duduk di sofa itu, kau datang menghampiri, sembari membawakan segelas kopi hangat dengan cangkir khusus untukku, lalu kau duduk di sampingku. Sesekali kau minta aku menuangkannya untukmu.
Sabdamu menjalar menuju bibirku, sandar tubuhmu di pundakku sebuah hangat yang meranjang dari tepian hari, itulah yang ku sebut engkau sebagai puisi.

Bila kopi itu mulai dingin, kau dengan cepat menghabiskannya, tanpa sisa untukku. Lalu kau lari ke dalam kamar, dan di sanalah ku sajak engkau sebagai roman paling ranum. Dan rindingmu dapat aku lihat dari titik-titik di kulit tanganmu yang kau tunjukkan padaku.


Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 13:07.

Malam Penuh Kehangatan



            Maskawin 63

Di tempat itulah, di ranjang yang bertabur wangi tubuhmu aku bersuara. Menyapamu penuh makna.
Kau menyebut namaku sebagai nobatmu yang kau tuturkan dari arah nafas yang tergerak di dadamu.
Kau tersenyum indah, meraba wajahku beserta kecupan ternikmat. Malam seperti tak akan usai, hingga kita ingin menyulap subuh, menjadi dini dalam ruang yang indah.

Kaulah purnama kala itu, menatapmu seperti melihat syurga meski tak bernama, lantaran namamu adalah aku yang kau sebut sebagai kekasih.

kita sambangi arah yang tak biasa
menemukan sudut air mata yang merintik di daun alismu
lalu ku sapa engkau, dengan darah yang ku alirkan lewat doa’-do’aku.


Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 12:52

Dasawarsa yang Kedelapan Dari Usia Sakral



            Maskawin 62

Pagi yang buta, menjegah kita dari azar yang tumbuh atas usap takdir
Kau beradu membangunkanku, memanggil nama yang kiranya akan bertemu dalam dekap imamah.
Kau berdandan...
Bersiap memapah ratu bermahkota itar cinta
Ku temani engkau, mengajakmu berbincang-bingcang. Hingga gelegar siang menyeru kita menatap masa.
Kita duduk bersama, ku bahasakan peneriman akanmu sebagai bidadari duniaku, yang kelak kaulah ratu akhiratku.
Terik merubah senyum semakin bermakna, kau bukan lagi kamu, tapi adalah kamu yang ku susun dari hijaiyah itu, qabiltu. Ku terima engkau dari segala arahku, memapahmu menuju istana termegah, dan kaulah melati yang tersusun dari bakti niscayamu.
Kau cium tanganku, itulah kecup terhangat paling sakral yang dapat aku sampaikan sebagai keridlaan.



Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 12:45

Kembara Yang Melintang di Matamu



            Maskawin 61.

Kembali, aku belajar menata tapak tatihmu. Sembari memapahmu dari tepian keping hatiku yang terlawat sebagai namamu. Tulislah sebagaimana engkau bersajak. Bacalah dimana engkau merenungkan tasbihmu. Hingga getar di dadamu adalah hidup yang tertawar atas nama baiat suci tentang nama kita.

Kau telah izinkanku memiliki jiwamu. Meski kadang aku harus berlarian. Aku masih di sini. Merenung engkau yang terkadang diam membisu, lalu berkata tanpa jeda.
Jika kelak air mata yang menggaris di pipimu
Dapat aku teguk kala hausku
Maka mendekatlah, tanpa ada batas barang sekedip mata indahmu itu.


Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 12:13.

BERJALANLAH ENGKAU. BIARKAN MASA PADA KAIDAHNYA



Maskawin 60

Detik adalah langkah, dimana setiap diri tak tertampik dari rayu waktu.
Maka berdirilah di sampingku. Jangan hitung usiamu, lantaran hanya kematian yang memisahkan raga kita. Berharap, kelak di syurgaNya kaulah bidadariku paling anggun. Akan ku tegukkan cawan susu padamu, dan kumandikan engkau dengan rayu paling madu di sungai madu. Sampai engkau harus meneteskan air mata bila melepasku.
Tidurlah di bahuku, kan ku dekap bahumu, ku nyanyikan lagu tentang rindu, tentang sahaja waktu rindu, tentang dawai semai yang ingin aku titipkan pada setiap kau menghirup nafas.
Mendekatlah, sayang.
Sampai sekat hanya kelebat dari gulita, dan kaulah bercah-bercah yang rona. Menggiring syair ilir di alir nadiku. Genggan jantungku, dan rasakan setiap getarnya, adalah engkau yang riuh merukuk sujud. Dan ziarahi batinku, adalah engkau yang sedang menyiapkan perjamuan-perjamuan malam.
Malam ini begitu gigil, sayang. Mendekatlah. Rapatkan tubuhmu di dadaku. Dan damailah. Karena esok, adalah hari baru. Dimana salju bukan lagi dingin yang menggigit, karena akulah kehangatan yang akan selalu kau sebut sebagai alas rebahmu. Dan kaulah mahkota dari singgasana beratap purnama.

Kamar Tafakkur III. 14 November. 2012. 21:37.

TARI MENARIKU BERSAMA SENANDUNGMU



Maskawin 59.

Sayang....!
Aku telah memungut restu dari telapak tangan ibu dan bapakmu, ku cium tangannya bak rangkaian azimat yang keramat. Dan ingin ku bawa engkau menari bersamaku dari ujung malam. Hingga kita akan sama-sama menarik tembang paling suci yang kita cipta dari setiap kita menuliskan kata rindu. Dan izinkan aku mengecup keningmu. Sedalam kau tanamkan do’a tentangku di tafakkur sajak do’amu.
Kalungkan selendang ini. Liutkan jemari dan tubuhmu, akan ku sambut engkau bersama dengting gamelan dari gemerincik hujan, ku basahkan tubuhmu. Hingga piawaimu dapat ku jelajahi. Ku hisap sari asrimu. Hingga madu sendumu dapat ku teguk dari segala arah erotismu.
Dan sampaikan pada surat di dadamu
Akulah yang sedang mengukir tubuhmu. Lantaran setiap lekuknya adalah kata yang harus aku terjemahkan dengan piawai, dan sajakku masih tak cukup menafsirkannya.

Kamar Tafakkur III. 14 November 2012. 21:17.

KU TELAGAKAN SAJAKKU DI BENING AIR MATAMU



Maskawin 58

Berulangkali.
Itar kata dan liut tubuhku terkayuh dari ragamu. Hingga batinmu membuncah darah lara luka. Sesampai engkau membidik biduk kilu yang berhamburan. Kau ukir senja dengan goresan penamu yang kau susun dari setiap air matamu. Dan kau merengkuh, di titik nadir yang teralir ilir tembang geming. Bak engkau berteriak di segara yang masih menempa batu-batu cadas.
Ku merunduk tunduk.
Di antara petak sejadah permadaniku yang lusuh, ku basuh rona roma yang telah berkeping-keping. Kadang tak mampu ku tata. Sampai lukamu makin membuncah. Dan kutawarkan sejuta iringan do’a. Dan engkaupun seakan beranjak lari dari binar biduri. Dan akulah yang termangu menawafkan puisi.
Di sini
Ijinkan ku sucikan puisiku lewat keramat air matamu. Hingga beningnya adalah basuhan tersuci yang ku miliki. Dan maafkan aku yang mengelana pada setiap denah luka yang tersayat lawat pita gita rindu. Dan telagalah sajakku. Karena setiap aksaranya ku petik dari setiap kau butirkan percik alir air matamu.

Kamar Tafakkur III. 14 November. 2012. 16:47.

DI NAMPAN MALAM KITA MENGALAMAT



Maskawin 57

Engkau memanggilku dari balik pintu kala malam itu. Kau mencariku. Mengajakku serta  memintaku memandikanmu dengan serampai bunga yang telah kau petik dari halaman rumahmu.
Kita pun sama-sama menodai malam.

Kau bergeleyut di tubuhku yang sedang merebah panjang. Engkau mulai menata hasratmu dari seluruh desir yang memangu tari geliatmu. Kau seperti kehilangan dirimu, lantaran akulah yang kau tiupkan nafas dari getar dadamu.

Kau memelukku. Melewati setiap baris yang melajur tubuhku. Hingga tibalah engkau pada gemerincik tajuk yang memaku di antara dadaku. Kau terus mencari, hingga panas tubuhmu menjadi gigil paling dahaga nelaga. Dan ku mandikan engkau dengan geliatku, sampai wajah basahmu adalah anggun yang mengapung birahimu dan buncahku.

Kamar Tafakkur III. 14 November 2012. 16:26.

TARIKU MENARI MADU BIBIRMU II



Maskawin 56

“Bawakan ini”.  Katamu manja
Sungguh ku terdebar getar di dampar dadaku, suaramu begitu merakit ukir di dendang telingaku. Suara indah tanpa iringan tiupan seruling. Seakan kau menembang bahar dari kitab-kitab.

Aku berdiri di sampingmu, bak aku adalah raja yang telah mendapatkan tahta, dan kau adalah mahkota yang tersulam dari manik-manik intan pusaka. Jantungku mengalamat degup. Dari rundukku ku curi ranum wajahmu. Dan indahmu tersemat dari setiap ukir senyummu.

Kita pun sama-sama menghirup senja. Dan kita mulai merangkai alir ilir kata. Kita duduk bersama, menulusuri pelabuhan randu.

Ku genggam tanganmu, seperti darahku mengalir deras, engkau pun menggenggamnya erat, menata jemari jarimu di jariku.

Kita mulai mencuri kecupan, kecupan pertama yang hangat menggiring malam dengan nikmat terhangat. Hingga tiba dimana nikmat mengulum di seluruh tubuhku. Kau seperti kehausan di padang dadaku. Ku ijinkan engkau menikmati setiap tataan tubuhku. Matamu terpejam, menahan nikmat teramat. Dan ku tutup tubuhmu dengan selendang yang terkalung di lehermu. Kita sama-sama terdampar di desah panjang nan lapang. Hah.....!.

Kamar Tafakkur III. 14 Novermber. 2012. 16 :14


TARIKU MENARI MADU BIBIRMU I



Maskawin 55

Jengah menempa. Ku berdiri melewati kejumutan rasa. Membentang tubuhku dari kota yang menghias lampu-lampu. Pada setiap persimpangan aku titipkan do’a, hingga jamuan pertemuan kita dapat terhantar dari arah dimana janji mengukir namaku dan namamu.

Ku titipkan pada setiap matahari menampar wajahku. Dan kilu mataku berkedip, mencari wajahmu. Hingga senandungku tetap ku sandungkan pada tanya yang merayap dari ujung rambutku. Ku susun ingatanku, sampai jejak kakiku hilang di bawah pepohon yang gersang.

Aku duduk merangkai tatapanku. Ziarahkan tanyaku kembali. Dimanakah dirimu. Bisakah aku mengenalimu. Meraba wajah anggunmu. Dan kau mencium tanganku.

Jariku menggetarkan puisi
Kakiku memijak paku bumi
Tubuhku tersandar di pojok pikirku
Terus ku mencarimu dari semerbak wangimu yang kau titip pada setiap purnama menimang wajahmu. Lalu ku temukan engkau.
Dan senyummu merangkai tangkai di desir nadi ari-ariku.

Kamar Tafakkur III. 14 November 2012. 15:53

SESUCI JILBABMU NENUJU TEDUHKU




Maskawin 54

Di palataran masyafah sajakku, ku kirim karangan rindu di sebalik teduh jilbabmu, ku hantar ribuan salam pada setiap percik hujan di hari ini, gemerinciknya membangunkanku dalam gigil. Sejenak ku duduk, ingin rasanya memelukmu.

Dekap yang lekat. Ingin ku kalungkan tanganku di tubuhmu, ku telusuri setiap lekukan yang menatar tatar candumu. Terpejam di hangat yang melekat. Ku alirkan darahku menuju lidahmu yang menari dari arah kau tasbihkan sajak-sajakku. Hingga ikat benang desahmu dapat ku anyam dalam tenang.

Segenggam air wudluk kau basuhkan di keningku. Sampai kau telusuri lekukan tubuhku di segara yang memetak sungging senyummu. Tatap matamu mengajakku manari di atas dipan-dipan megah. Menghantarkan geliat panjang dari berkas senja yang menggaris di lehermu.

Ku itari lehermu yang berutas rayu-rayuan
Sampai ku tanamkan bercak saksi dimana kau telah taburkan percikan desahmu. Dan aku pun menimangmu dari sebalik jilbabmu di dendang sajakku.

Kamar Tafakkur III 14 November 2012. 15:40

KITA DALAM PERCAKAPAN WAKTU



            Maskawin 53

Waktu telah melahirkan sekian ceritra, dari ronta yang terkais atas makna nama kita, kita terlahir dari tubuh yang sempurna, tumbuh dalam lanskap, menuju denting detik yang terpetik pada setiap diri menyulam salam kelam, dan gurat cahaya melintas pada utas pijar do’a kita.

Dari gurun ke pantai, waktu membius jendela jiwa-jiwa kita, hingga sudut terindah terbaca pada setiap bening mata yang menuju sempurna.

Bila ku lihat wajahmu
Serasa jelek diri ini, waktu pun tak jua menjelaskan dengan sempurna, bagaimana aku temukan ini
Hingga saat aku berdiam di atas ranjang berdupa, engkau mengecup pipiku dengan tutur sajak yang lahir dari bisikmu di malam yang panjang.
Bahwa akulah untuk masa depanmu.

Percakapan sekian waktu, telah melintang dari bentang gemintang, bertebar di debar degub jantungku yang larut dalam jantungmu.

Dan kita terus meniti jembatan rindu ini, hingga mahkota yang suci dapat kau persembahkan untukku utuh. Dan waktu telah terjabar.

Tuhan, darah kami terbatas, nafas kami tak mungkin cukup menjelajahi waktu sampai titik nadirnya, utuhkan kami menjadi satu, utuh terindah sebagai hamba, hingga percakapan kami adalah tutur waktu yang suci, lewat bahar mahar ini menujumu.

Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 18:39.

IZINKAN AKU, BAPAK



Maskawin 52

Telah ku sampaikan tentang kabarnya padamu, dan engkau masih melukis jeda, Bapak. Engkau yang dulu menggendongku, saat aku terkuali lemah, hingga haru ibu membatas hujan, lantaran aku seakan tak lagi mampu tempuh hidup ini. Engkau tahu saat pertama aku menatap matahari. Engkau pun mengerti saat engkau membuat air mata ini mendanau di atas rangkaian musyhaf.
Alir keruh keringatmu telah mengukir tubuhku, dan langkahmu tertulis jelas dalam sejarahku.
Kini, izinkan aku membawanya kehadapanmu, hingga aku bisa melukis tubuhku dalam tubuhnya, dan aku akan ukirkankan sejarah paling indah, dan bulan pun tak sanggup menawarnya.
Ijinkan aku mengecup keningnya di hadapanmu. Saat engkau bersilah dengan nikmat khusyuk.
Hingga kesucian yang kau balutkan atas keningku, dapat aku taburkan dalam persemedian rakhimnya, dan engkau akan tersenyum, dengan janji syurga yang kau ajarkan pada setiap usiaku menutur waktu.

Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 17:19.

SAAT AKULAH TUBUHMU



            Maskawin 51
 Biarlah keringatmu menggenang di tapak tanganku.Ijinkan aku menghirup aroma sedalam qalam atas wadah runcing penaKu teguk sabdamu dengan bismillah, hingga terselam jiwaku pada samudra yang meluas namamu. Beri aku kepak riuh sayap dadali, mengingat sahaja senja yang kan terlukis di baris bibirmu. Hingga dapat ku hirup wangi subur bumi lahirmu dengan taburan kenanga, dan ku mandikan engkau dengan secanting melati dari bumi lahirku. Akan ku peluk erat alammu  dengan sejuta gigil dari rumus lelap dedaun di antara tubuhmu. Kecup tanganku, dengan ziarah wangi nafasmu, hingga engkau menemukanku bukan lagi sebatas nama, tapi engkau akan memapahku sebagai pemikat tubuhmu.
Jangan berlarian, bersandinglah, hingga angin pun akan menangis dengan deretan kecemburuannya. Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 17:01.