Aku dudukk di depan pintu kamarku, ku tatap halaman rumahku, b'harap ada derab langkah kakimu, dan kaupun kan memanggilku dgn sapa yg lembut.
Ku mulai hirup udara yg sejuk dini ini, dalam harap hati, sedamai kau peluk aku dalam ijab yg sakral.
Dan akupun berharap, kau kan ikhlas temaniku di negeri kelhranku.
Mash mampu ku bendung tetes air mata gundah ini, entah pada waktu istrjbah slanjutnya!?.
Namun begtu menggil ragaku bila harus ku sbdkan padamu, krn mungkin aku hanya sebtas bercak debu di tanganmu, yg kpan saja dpat kau hembus, dan debu itupun b'hamburan, lalu kau siskan sayat luka yg beralas rengkuh siksa tak terarah.
Aku tak ingnkan itu,sungguh. Tapi aku hrus merunduk tuk renungkan makna sujudku. Saat ni Aku hanya mampu mencntai, dan mungkin tak mesti pksakan agar kau sematkan sorban amanah imam dan cinta di pundakku. Karena kini terjarah dalam sadarku, bahwa kasta kita berbeda, aku hanya pecintamu yg dlhirkan dan dibsarkan dalam ksedrhana'an, sedang engkau senantiasa berhias permadani yg megah, dan penuh manja yg nyata.
Dlam rukukku, ku patrikan tanyaku tntang ksungguhan hatimu, karena cinta ini bukan lagi rahasia, meski kau terlalu setia dengan rahasiamu.semoga saja kau tak hanya dapat ungkap rahasia it di atas nisan pusaraku, krna nfas ini tak dpat aku terka, smpai kpan akn tetp aku hrup. Sdang aku jug tak mampu menbak dan menrjmahkan makna hatimu yg sesngguhnya dgn smpurna.
Kali ini aku tak ingn memksamu untk mengtkanx lagi, aku tak ingn lagi mendengar kata "belum sa'tnya", ckup air mta dan do'aku yg memhaminya, krn wktu di esok hari, belum tentu aku msih ada di pelminan dunia ini. Ktkan saja dgn ikhlas, jik aku memang tak pantas, tnpa harus kau terus brikan alsan dgn sjuta rhsia waktu yg sering kau ucpkan.
Krn dgn menunggu kmtian sja, wktuku sudah tak ckup. Aplge jik hrus menantkan jwban yg slalu kau rhsiakan. Dan Tuhan pun tdak rahasiakan rasa ini.
02:58. 10/08/11 [kampung tafakkur kelhranku]
Ku mulai hirup udara yg sejuk dini ini, dalam harap hati, sedamai kau peluk aku dalam ijab yg sakral.
Dan akupun berharap, kau kan ikhlas temaniku di negeri kelhranku.
Mash mampu ku bendung tetes air mata gundah ini, entah pada waktu istrjbah slanjutnya!?.
Namun begtu menggil ragaku bila harus ku sbdkan padamu, krn mungkin aku hanya sebtas bercak debu di tanganmu, yg kpan saja dpat kau hembus, dan debu itupun b'hamburan, lalu kau siskan sayat luka yg beralas rengkuh siksa tak terarah.
Aku tak ingnkan itu,sungguh. Tapi aku hrus merunduk tuk renungkan makna sujudku. Saat ni Aku hanya mampu mencntai, dan mungkin tak mesti pksakan agar kau sematkan sorban amanah imam dan cinta di pundakku. Karena kini terjarah dalam sadarku, bahwa kasta kita berbeda, aku hanya pecintamu yg dlhirkan dan dibsarkan dalam ksedrhana'an, sedang engkau senantiasa berhias permadani yg megah, dan penuh manja yg nyata.
Dlam rukukku, ku patrikan tanyaku tntang ksungguhan hatimu, karena cinta ini bukan lagi rahasia, meski kau terlalu setia dengan rahasiamu.semoga saja kau tak hanya dapat ungkap rahasia it di atas nisan pusaraku, krna nfas ini tak dpat aku terka, smpai kpan akn tetp aku hrup. Sdang aku jug tak mampu menbak dan menrjmahkan makna hatimu yg sesngguhnya dgn smpurna.
Kali ini aku tak ingn memksamu untk mengtkanx lagi, aku tak ingn lagi mendengar kata "belum sa'tnya", ckup air mta dan do'aku yg memhaminya, krn wktu di esok hari, belum tentu aku msih ada di pelminan dunia ini. Ktkan saja dgn ikhlas, jik aku memang tak pantas, tnpa harus kau terus brikan alsan dgn sjuta rhsia waktu yg sering kau ucpkan.
Krn dgn menunggu kmtian sja, wktuku sudah tak ckup. Aplge jik hrus menantkan jwban yg slalu kau rhsiakan. Dan Tuhan pun tdak rahasiakan rasa ini.
02:58. 10/08/11 [kampung tafakkur kelhranku]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar