Kamis, 17 Mei 2012

MENDARAH ARAHMU


Maskawin 50

Dari sebuah perjumpaan yang menghampar di bawah langit
Kau menyapaku dari sekian layar yang mengepak dari lautan yang berbeda
Kau menepi menyalami tanganku
Mengajakku berdansa dengan dayung jemarimu yang telah menarik ruas jariku
Ku terus menuju mu dengan berdarah waktu
Menempa ribuan hari tentang kisah pada relief musim, hingga darahmu tercecer melewati luka terdalam dari sabetan yang menebas ilirmu.

Alir ilir......
Meghilir dari alir landai asah rasamu. Di antara palung yang tercipta dari lajur mata yang berair kau mandikan aku. Mendekapku dengan sekian kehangatan mulya kepingan hati. Kau memapahku, rebahkan aku di haribaan sebagai sang kekasih. Kau menembang artate atas aksara macopat yang terukir sejarah, siul seruling bambu itu mengibarkan istana tentang arah yang membentang keangkuhan, hingga terindahmu adalah tabiat nikmat sebagai hadiah sang pencipta.

Kamar Tafakkur I. 15 Mei 2012. 20:14.

KABARKAN AKU TENTANG KEMBARAMU

Maskawin 49

Engkaulah yang telah membngunkanku dari tidur yang pulas dengan ulas elusmu yang melembut. Engkau seperti denting lonceng yang memanggil kerinduan. Menyapa dengan setiap engkau mampu sentuhkan tapak tanganmu di wajahku. Di dadamu ku temukan tempat peristirahatan yang teduh. Meneduh dengan segala isyarat tentang ziarah cinta yang telus melajura arah.


Kaulah kabar indah dari langit, yang mengutas awan dan menyipta kejernihan dalam danau segara petak kidungmu. Dan riak mengemulai lentikmu, tarikan berkas alas yang menyelendang disetiap engkau meunduk lirih, mencariku dari tepian ruas jemarimu, hingga pada petak tapak kakimu.
Dan kau melukis alisku dengan ribuan warna, dan lengkungnya adalah sabit rindu yang menajam.

Kamar Tafakkur I. 15 Mei 12. 20:00.

EMBUN DI SETIAP TITIK KAU MENEBAR DAHAGA


Maskawin 48.

Di antara jeda malam dan pagi, aku menemukanmu sedang merebah lirih di alam pikir dziqirku, ku sapa engkau pada setiap dzikir yang terpetik dari biji-biji tasbih, ku rebahkan engkau di atas lembaran musyhaf, dan ku rawat engkau dengan rintik air mata. Dan engkau pun menatap gigilku.

Lalu engkau pun mengembara, melewati kubangan persemedianku yang sepi tanpa kabilah. Kau berjalan dengan besit ranum purnama, di dalamnya engkau meneguk semilir, alirkan letis embun yang kau percikkan dari bibir lembutmu. Engkau terus berjalan, ku lihat dengar derab langkah kakimu semakin mendekatiku. Entah berapa lama lagi, atau mungkin tak jauh lagi.

Senandungmu mengandung petikan bahtera, yang tertera pada setiap engkau mensucikan wajahmu di gurun yang melapang dadaku.
Setibanya engkau di peraduanku...
Engkau memintaku menyiramkan sejuk embun yang telah ku petik atas nama basah dari hambaran laman tanganku, engkau pun meneguknya.

Tegukan pertama: kau berkata “bahwa aku lah yang kau rindu”. Dan sesampai sabdamu itu, aku pun melipat purnama pada kedalamn matamu, dan setiap malamnya, kau lah purnama yang tak membutuhkan malam, karena akulah semesta yang mendekapmu dengan erat tanpa sekat.

Tegukan kedua: kau berbisik “lahirkanlah anak-anakmu dari rakhiemku”. Se ziarah bisikmu itu, ku dekap engkau dengan rintik embun, hingga engkaulah embun yang tak lagi membutuhkan pagi, karena akulah penikmat embun di segala arah dahagamu, tak berbatas musim dan hitungan almanak.
Denting waktu adalah gelora atas asma’ kita.

Kamar Tafakkur I. 15 Mei 2012. 19:48.

ATASMU KEKASIH


Maskawin 47

Aku adalah yang lahir dari do’amu. Hadir dari gersang bumi atas terik matahari, membakar purnama dari susun eja kaidah tentang luka kilu. Dan engkau telah memanah ribuan dedaun, meranggas dari asah musim. Dan aku menuai segala bilangan terlangkap dari pandang suratmu yng tertulis tentang jelaga.
Dan sirah malam, mengalamat dari setiap renung tidurku, dan atasmu aku membayang sekian air yang memata atas uzlah berlingmu.
Dan aku terus setia pada  tatanan hangatmu, karena atas namaNya aku menuju, ingin mengayuh sampan yang kita cipta dari altar puisi.
Hingga kita akan merayakan cinta di antara saksi tentang pelabuhan yang menggurat di keningmu.
Dan ku hiaskan manik-manik kecil, yang setiap bulatannya terukir namamu yang memeluk namaku, hingga tumbuh barisan lurus tentang lengkung jejanur di depan rumah kita. Di sanalah kita hidangkan jamuan yang kita tata dari kepingan bilangan waktu tentang ikrar kekasih.

Kamar Tafakkur I. 14-05-12. 19:53.

SELARAS KEPINGAN NADA JANTUNGMU DI DO’AKU


Maskawin 46

Sebias surga memetak di jantungmu, mematang pada setiap arah yang ku tanam pada sekian harap masa memasa tentangmu yang menahkoda di nadi do’aku. Biar kita cipta telaga yang memanis madu.
Ini dadaku, berharap kau akan membantal di atasnya, lalu engkau akan menceritakan tentang rupawan bidadari, dan aku pun akan mengecupmu sebagai bidadari yang telah sempurna menjadi cerita pada setiap aku memahat nama tentang petikan nada jantungmu yang menganyam namaku.

TETES DARAHKU YANG INGIN KU SULAM DALAM RAKHIMMU

         Maskawin 45

Restui  aku.....
Menyusun setiap darah yang mengalir dari tubuh ibu. Yang dalam setiap alirnya adalah kehidupan yang teraup harap tanpa jeda. Mendanau pada setiap aku ingin mengayuh ketaatan di antara restu yang mengiring denting haru di kelopak matanya. Dan ibu telah sucikan darahku atas basuh kakinya dengan senampan rupa bunga yang terpetik di pohon masyafah istijabah.
Kini,
Ijinkan aku......
Lawatkan darahku pada kandung rakhiemmu, dan menetap selamanya, hidangkan aku rengkuh ternikmat pada lekukan suci yang menjalari tubuhmu. Dan desah terpanjangmu dapat ku pintal dengan desah isyaratku. Hingga rupa-rupa pandawa akan menggigil dalam dekapmu, dan kecup bibirmu akan memetak pada setia tabiatmu sebagai ibu.

Kamar Tafakkur I. 14 Mei 12. 19:02.


DENAH MENYAMPAI DO’A KITA


            Maskawin 44

Masih ingatkah engkau, dimana permulaan cinta ini bersua, dan menujukan arah tentang usung ceritra torehan bahasa kita. Pahamkah engkau, saat imbangi hari sibukmu dengan gelayut tanganmu di bahuku.

Detik telah menemui kujur tubuh waktu, meninggalkan hitungan almanak yang berguguran di bola mata kita, dan kita pun mengais kepingan asah hasrat yang terendam atas asih ingatan di punguk keangkuhan. Membaca aksara tanpa kitab, memantik pena tanpa tinta, biarkan keminyan menyala dengan asap wanginya, dan ritual rindu kadang mematah denah yang memapah ikrar do’a.

Dialog-dialog kecil membawa kita menapaki suguhan hasrat, dari sekian purnama telah terlawan pada lawatan tubuh matahari, menyingsing pada sejarah paling randu dari candu pemandu gita cahaya penanda julang sabda.
Dan
Sajakku ku sejadahkan di setiap engkau mengukur jarak malam, menanda pada syahadah irama harap titik termanis atas alas pelaminan.

Kamar Tafakkur I. 14 Mei 12. 18:23.

KEAFSAHAN BENAH CINTAMU

Maskawin 43

“Dan aku ingin memiliki abi seutuhnya. Aku takut kehiangan abi.” Katamu.

Ku kalungkan katamu pada kepak detak dadaku, ku ilirkan pada setiap aku mengingat atas hembus nafas yang mengeja nama dan hadirmu, ku tebar debar asahku, yang mengasih dari kelana didahmu dalam telaga utas usap do’amu.

Syahdu sibak kelambu dari socamu, menembus kedalaman socaku.
Sukma menagih lirih atas bilangan kata atas hantar pinang linangmu.

Hingga hasta tak ingin terlepas atas nama di lesung cahaya yang menyurat di mufradat namamu, dan kunjung sairku menelaah jiwa yang sedang mengambang di antara raup hujan dingin di malam pekat. Sekat menjelajah waktu, atas benua yang membentang di telapak tangan kita, dan rindu seakan mengeja tanpa jeda penamaan sahaja.

Atas nama usap cinta, ku sampaikan salam terindahku, di antara rengkuh sujud. Pakukan pinanganmu, hingga langit adalah atap terkuatnya, dan hatimu cagak paling utuh.

Kamar Tfakkur I. 14. Mei,12. 17:24.

KALA HALU SAPAMU MENGEPAK DENDANG

Maskawin 42

Kerinduan membahasa di kedip mataku, ku hantar menuju silsilah paling ranum di sekujur  tubuhmu. Aku menemu, seramu kias tentang bilah bibirmu yang mengering  akan bahasa dari pitutur yang menjelma cipta kasih. Umpama mengejar diri, dipekat kata yang masih tercecer pada lamun sepi.

Kemanakah sipu sembab ini ku haturkan
Dimanakah kan ku temui sisa bungkisan kecil atas sapamu

Dasar di tatar ku hantar, mengalaman dari arah yang terus ku simpangkan dari arah pekik luka duka, menyampai dari kedip kejora matamu yang masih tersimpan atas kuncup pada tembang melati, dan putik pun masih membasah di bawah bahasa jernih hujan.

Bila ku tuai hasrat yang terkerat, hingga serat rukukku sedang memapah ribuan tanya, dan karat desah do’aku sedang melalu atas asma’ penuturan kehangatanku sendiri. Sedang dalam bahasamu, akulah pecinta yang membatas.

Kamar Tafakkur I, 14 Mei, 12. 16:57

SAKSI ATAS DZIKIRKU TENTANGMU


Maskawin 41

Malam ini, kau urai kisahmu, yang kini sedang bercakap dengan slendang malam, lalu engkau melenggok, kedipkan matamu di antara sekat bulan yang sedang menuntun gulita. Kau seperti memetik kecapi, dan akulah dentingnya, hingga bahar sayup membusur pada petang ujarmu di pintu ruas berpetak

Aku belum melihatmu utuh, dan kau pun masih bersenda di istana yang mengepak sayapmu pada semedi beraroma kesturi, dan pada jelma doamu, aku menantimu dengan nada cemas, ingin mencium tapak tanganmu yang mensuci di setiap engkau tersimbah di kedalaman renungmu. Waktu adalah itar lanskap yang sempurna, berharap mengitar kita pada wujud sempurna yang merias indah, dinilai berkah.

Kadang gelisah terus menyambuk kita di rebah padu rindu tentang kecup ternikmat.
Ingin ku tandu engkau, menuju perjamuan abadi.


Kamar Tafakkur I, 21 April 2012. 22:20



KEMBARAKU TENTANG RIASMU


Maskawin 40

Pada garis permulaan, aku menapakkan sapaku tentang keindahan kalimatmu, mengenalmu yang sedang menggigil di antara ranjang yang setia mendekap gelisahmu kala itu. Ku bahasakan kembara sapaku, izinkan diri mendawai pada setiap kau uzlahkan suaramu di dinding keningku. Helai waktu, undangkan engkau di bilik sahaja, menunai bias makna namamu di bawah alur i’tikafku.
Kaupun mengelana zamanku
Menyipta musim-musim
Semai semi sahajamu di bangsal alur ceritraku tentang pemandian cinta.
Ranggas penampik kilu memetak tentang pajang sesenggang rawa yang mematang di kuyup wajahmu dan wajahku. Hujanpun  raupkan denting terindah tentang dawai yang melandai di karat ronta, hingga desir menyemilir pada setiap kita bertandang tentang aroma hikayat perihal hatur kisah dalam rakit kasih.

Kamar Tafakkur I , 21 April 2012. 20:13


Minggu, 22 April 2012

REBANA RINDU YANG MENDENDANG DI MALAMMU

Maskawin 39.

Sesampai salam  ku jelmakan rindu, atas kadar arah yang melintang pada setiap kau nyanyikan gurindam do’a-do’a. Mulai ku kais bintik kejora yang membaris di tapak persujudanmu, dan kupungut pada randu rindu yang mengitar garis jemarimu. Izinkan aku menyelam pada giring tatapmu tentang sendu malam, yang kibarkan aksara pada kibar bebintang di aroma nafasmu. Teguk janjimu biarlah menelaah, hantarkan engkau padaku yang sedang terbaring di pucuk purnama, dan biarkan engkau menyulam jamah cahayanya tentang namaku, hingga dekap bidara dapat kau sempurnakan dalam hatur restu.

Damailah, hingga gigilmu adalah ayat yang dapat aku siratkan pada tafsir degupku, dan kau pun melembarkan tikar yang membelukar di tegak bahuku. Lelaplah di antara timangku, dan kau pun menghalus di segara peranakan cinta.

Katub rasup asma’mu, ku jumrahkan pada kornea mataku, hingga tersusun kitab-kitab kecil pada setiap rongga tubuhku. Dan kutadaruskan pada setiap kau mengundang air mata di rukuk panjangmu.

Kamar Tafakkur I, 21 April 2012. 19:33

Minggu, 01 April 2012

Kau dan Aku 8

Menebar aroma pada kering tanah kelahiran, menandus pada petak atas garis yang membaris di keningmu. tertitip senja pada setiap engkau mampu menaburkan melati di danau yang hijau, menjernih atas nama sumber yang menitik suci hatimu. jangan biarkan air matamu memuara atas nama luka, ijinkan pada setiap halus jemari ini, untuk memasang satu bendengun, atas kekuatan hati yang tertutur pada lembut halus gerak di bibirmu. dan teruslah mengeja relief tentang lafal-lafak kita, hingga ridla seorang ibu, serta restu seorang bapak, dapat kita rangkum dengan ijabah do'-do'a pada hela nafas yang mengusap udara.

Kau dan Aku 7

Inginku hidup bersamamu atas nama istikharah, dan do'a-do'aku yang berharap beriring ridlaNya, serta restu mereka. maka biar kekuranganmu menjadi bukti, bahwa engkau layak didampingi dan dicintai dalam ikhlas. Karena kekuranganku, akan bersanding dengan kelebihanmu untuk menjadi indah .

Jumat, 23 Maret 2012

Rindu


Pada kelopak mataku yang berkerudung mendung
Karena kerinduan yang mendera sepenuh perasaan
Pada serangkai syair yang tersimpan malam

Aku dan Kau 6

Kau memberiku cahaya saat nyalaku remang, menjadi lukisan ruang yang terang. Dengan semerbak wangi penuh keindahan, hingga engkau tak padam dalam segala kenangan. Membuatku tak lagi dapat menahan untuk menguntai baitbait kerinduan.

Duhai jiwa yang merebut segala perhatian, segeralah engkau hadir membawa sekuntum senyuman.

Aku dan Kau 5

Aku tau yang kudekap saat ini hanya kata -mungkin-
Namun kesungguhanmu dan doadoaku menjadikan aku 'yakin'

Kini biarkan rindu dan cinta ini hening, hingga kita dapat merengkuh bening.

Luka 1

Desember di empat belas ada luka yang masih membekas.

Meski luka itu lupa bagaimana berbicara, namun ia selalu menyapa.

Ini malam yang kesekian, aku masih teringat akan kesedihan yang menjadikanku genangan.

Kau dan Aku 4

Iring yang menggiring rebah itar rasa pada kum kum ibrah tari halusmu, ku kalungkang larik sajak dengan tangkai lengkung alisku yang menintal dengan runduk rukuk di uzlah senja. pajangkan bisik seduh teduh bahasamu, yang mengalimat dengar iring pinta hasrat rayumu pada detak nada nadiku. dan uswahmu merakit tadahku di pangkal jamah usap cahaya yg memancar dari putih matamu. dan kaupun meneguk do'aku. ragaku pun kau selendangkan bersama ruas jemarimu yang menetes zam-zam atas sumber mata air air mata getar kasih di istana pelabuhan putik ijabah cipta.

Kau dan Aku 3

selamat malam kekasih, meski engkau mampu berdiam diri dalam segala tafsirmu, ingin ku raupkan bercik embun yang alirkan dari bening mataku. atas nama kesetian yang ku kibarkan pada setiap kau memajang kedip alismu...hingga akan berziarah pada semesta hatimu yang meneguk pesona janji. pada malam aku nantikan sapa halus rindumu. dan pada waktu aku menanti dekap suci yg sesungguhnya.


----*jika kau belum mampu hijrahkan suaramu pada malam ini, hadirlah dalam mimpiku untuk ku dekap dengan sesungguhnya----

Kau dan Aku 2

sanjung denting bening hujan, merasup alamku di sanjung hela nafasmu pada titik mataku. kau menyejarah pada simpul tabiat cintaku. hingga baris urat nadimu menembuh skema halu rindu yang ternobat atas nama kaidah kasih kita.

*salam rindu atasmu pada malam ini. hingga malam-malam selanjutnya

Kau dan Aku 1

Kini akan ku tegakkan satu utuh tiang niang abdi pada jalar tangkai hatimu, hingga kau akan terus merambat pada rusukku yang kau emban dari skala selaksa hilir alir darahmu, ku usap wajahmu pada ridla tdahku, atas ke mahaan-Nya.

Minggu, 11 Maret 2012

Aku dan Kau 4

Bukan aku hanya sibuk dengan mimpiku tanpamu, hingga aku selalu mengulur-ulur waktu untuk bertemu.
Meski jauh kau dan aku selalu bertemu dalam rindu.

Kita sudah berusaha samasama menjadi yang lebih baik, kini kita pasrahkan segalanya pada Sang Khalik.
Untuk menetapkan saat dan tempat yang tepat buat kita bertemu dan memahat janji suci dalam naungan Ridha Illahi.

Sejujurnya aku ingin cepat pulang, bersabarlah yah
Jhody M. Adrowi

Aku dan Kau 3

Perbedaan inilah yang mengajariku untuk selalu menghargai dan memahami.

Kau tau, bukan perbedaan yang menjadi penghalang untuk kita berdua bergandengan menuju masadepan.

Tapi ketidak ikhlasan kita dalam menerima kekurangan, menjadi jarak semakin membentang.

Yang harus kita lakukan sekarang adalah menyesuaikan, dan saling melengkapi kekurangan.
Agar langkah kita tetap berjalan menuju rumah yang sama.

Aku Dan Kau 2

Malam dan hujan temanilah aku, aku ingin bercengkrama dengan kalian walau gigil memeluk tubuhku.

Malam, lihatlah angka satu semakin mendekati dua namun kenapa kusemakin takut semua akan siasia?

Hujan, kenapa aku semakin takut akan ada kesedihan yang menjadikanku genangan?
Apakah sepi ini akan hilang ketika aku pulang mengecupnya dalamdalam.

Aku dan Kau 1

Yah Jhody M. Adrowi, engkaulah cahaya yang mendekapku disaat gelap.

Begitu berartinya pelitamu, ketika ku lihat hitamnya sepi di balik punggung ini.

Berjanjilah tak akan lagi kau sayatkan luka hingga menggarisi jarakmu denganku.

Jika kau ingin menjadikan kau dan aku, satu.

Rabu, 22 Februari 2012

Cintaku Untukmu Selalu



keindahan langit terselimuti mendung
hujan yang menetes harus rela kukulum
untuk sesungging senyum pelangi
walau melati dihempas ditepian sungai

terulur selendang cinta
menari bersama cahaya senja
melabuhkan impian taman syurga
menghamparkan hati seluas samudera

bersama selembar maaf
yang telah tersemat
juga harap tetang indahnya pertemuan disaat yang tepat

kumenyapamu sang kesatria yang berhati indah
yang mengulurkan sapa nan ramah
luruhkan sebongkah salah
untuk kebersamaan yang merekah

menjadi sampan yang akan membawa serangkum asa kemuara
melabuhkan rindu yang melekat penuh cinta
kutata patahanpatahan kata
merendanya menjadi baitbait aksara
untukmu sang kesatria yang lembut hatinya
kini kuhamparkan kata setia
untuk menunggumu tiba
hanya satu harapan yang ada
menabur benih cinta untuk memanennya disana
ditelaga yang memancar tengahnya mata air salsabila

*setangkai sapa dan selembar cinta untukmu kesatria yang lembut hatinya*

Mahar Cinta 34 - 36



DALAM KALIMATMU AKU MENADAH

Maskawin 34.
Susun hujan yang meraup wajah langit, dentingkan istilah rindu yang terlahir pada latar namamu yang tertuang pada alir nafas yang senandungkan tengtangmu yang jelita. Terus aku dengarkan denting itu, hingga halus wajahmu mulai menyentuh setiap lekuk yang terukir di tubuhku. Dan ku temukan engkau sedang membalut pipimu yang memerah rona. Lamat-lamat aku ta...fsirkan engkau. Engkau yang mendetik pada degub dendang jantungku yang kau uzlahkan pada setiap engkau mampu duduk bersilah di atas kembang tahajjudmu. Ikat mengerat kuat, itar biji tasbih yang mengalung di lentik ujung jemarimu. Hingga bekas keningmu dapat ku ishlahkan pada ibrah napak tapakku di bawah kautsar jilbabmu.

Toman, 23/03/12. 3:00


SAMPAI CINTAKU MENGAKAR DI LADANG NEGERI-MU

Maskawin 35

Basah membasah asa, syairkan tentang petak-petak telaah pada sekian kaji tentang ilham janji yang ku ibhamkan pada setiap tetes kecil yang membaur di telaga malamku. Ku tanam seikat benih yang ku dapati dari lumbung kecil pada sudut hatiku. Hingga kaupun memanah langit di sekian gerimis yang mengental pada riak awan yang mengitar di belah keningmu. Dan suguh hujan-pun ku dapati pada petak ladang yang mulai menumbuh benih itu.
Lalu, kau sampaikan padaku tentang kisah-kisah yang sudah kau rangkum bersama gigilmu yang membekas karat di bibirmu, tiba-tiba kau berbisik padaku: “yah, benih itu telah tumbuh”.
Lalu ku tancapkan satu mahkota terindah yang ku bangun dari pertapaan suciku. Baiat kilau sabda-sabda yang telah ku syairkan pada setiap engkau meladang di negerimu, dan kembali mengikat benih yang telah landaikan namaku pada sesembah ikhlasmu.

Toman, 23/02/12. 03:25
KU PAHAT NAMAMU PADA SABITKU

Maskawin 36

Setelah engkau ku lamar pada detik sunting denting masa dalam susun sakral Fatihah
Malam yang gambarkan purnama
Pagi yang raupkan tubuh embun pada dedaun alismu
Senja yang kabarkan engkau tentang tarian ilalang
Mulai ku pahat engkau pada sabitku yang tertulis dari alir darahku di jejari manis ini. ku bekaskan wangi darahmu pada setiap aku menghirup segar nafasmu. Dan kaupun mulai mengerat erat di eraman teduh pelukku. Hingga balut gelayut lenganmu yang menguat di leherku, telah menggagangkan sabitku yang mengukir namamu, menyakral di hatiku.
Kan ku tebas mata yang menebar rayuan pada matamu, karena sabitku telah menajam bersama gangsi darahmu di tubuhku. Akan ku hunus bibir yang merayumu dengan sejuta diksi fiksi. Karena kilat sabitku mulai marasuk pada bulat putih hitam matamu.
Genggamlah sabit ini duhai detak nadiku. Dan persembahkan padaku, bila angin saja berani membelai rambutmu.


Toman, 23/01/12. 03:44.

Selasa, 21 Februari 2012

Setangkai Endelweiss Untukmu Cinta

 
kutatap lembayung jingga senja tadi
langit merona menenggelamkan keperkasaan matahari
dan kupetikan setangkai edelweiss dari istana tamansari bidadari
yang tak kan mati meski tercerabut hingga kenadi
terus bersemi dan mekar menyelimuti hati
 
kepersembahkan setangkai edelweiss ini untukmu
dengan cinta yang mekar tak pernah layu
duhai kekasih hatiku
yang kulihat dalam sujud isthikharahku
 
kupersembahkan edelweiss ini untukmu cinta
dengan ketulusan jiwa
secercah harapan kita bersama
dalam cinta seiring sejiwa pada jalan-Nya
dan kusenandungkan tembang asmaradahana
membaur rindu dalam cinta kasih yang diridhai-Nya
 
kulukiskan setangkai edelweiss pada puisiku
dan kutitipkan cinta bersama rindu untukmu pada waktu
sampai saatnya kita bertemu
dan terpaut ikatan janji suci
merenda hari dalam fitrah sejati
dalam naungan kasih sayang Illahi
 

DI SEMENANJUNG DO’A

DI SEMENANJUNG DO’A
Maskawin 33

Larik-larik hati
Menunjuk satu isyarat pada kepak sadarku.
Kembali mencari. Alir deras yang telah cipta telaga.
Telah teraup wajah ini pada papar damba yang larungkan asa tanpa jeda. Jelmakan dahaga pada setiap cinta yang mengais kering ilalang. Tak henti gerak jemari menyipta tebar lamar do’a di segala arah yang pautkan aku pada asma’ kasih. Tanyaku mengelana pada ribuan musim di tebar degup didahku. Terselam pada tutur hidup yang rebahkan aku tanpa jera.
Pada tadah di hari itu, yang terus aku tuliskan pada setiap kertas tebal yg kucipta dari isakmu, aku menengadah. Bersama bahar yang tumbuh pada sekian asa. Ku pohon tentang kekasih, yang kian mampu taburkan sujud pada ranjang pengantinku. Kaupun datang dari sela jariku, hingga do’aku mulai tumbuh akan gelakmu yang menyunting susun sarafku pada fikir yang termaktub pada kitab takdir. Aku mencarimu pada setiap kepak yang sahutkanmu tentang semerbakmu yang terus menumbuh pada tasbihku.
Rabb....! bila kini kau sediakan halaman sejadah tentang makna asmara. Bila sekian niat telah memadang pada alir dzikir yang julangkan junjung langit. Demi gapaikan malam suci pada detik degup yang memahar, maka ku persembahkan alamat alir niatku yang ku sucikan dengan fatihah tanpa jeda. Yang terus mengalir atas basah bibir ini.
Bawalah aku padanya dengan satu tandu yang kan terpikul oleh ijabah para malaikat. Dan ijinkan aku mengusap air mata yang telagakan pipinya, hingga deru degup jantungnya dapat aku persembahkan pada hati yang meluas di atas mahabbah yang kau cipta dari rahman rakhimmu.
Bawalah ia padaku, dengan kereta yang termaktub pada setiap lembar syahadat, atas bisik ayat-ayat yang pelan ku bacakan di setiap desah nafasnya. Hingga sumsumku jalari lekuk tubunya pada karangan do’a yang ku kalungkan pada dayung istijabah.

Kamar Tafakkur I

17.02.12. 03:42

SENTUH AKU, SEPERTI MELATI HALALKAN SERBUKNYA

SENTUH AKU, SEPERTI MELATI HALALKAN SERBUKNYA
Maskawin 32

Pada gerak awan aku berlindung, memaknai setiap risalah yang jelmakan aroma semerbak yang lahir pada sekujur tubuhmu.
Layaknya kau menebar,atas sebar wangimu yang isyaratkan aku pada tubuh pelaminan dalam sanding tarian cahaya. Diam-diam kau merunduk, mengundangkan kepalkan sejuta tanya. Aku menggeliat. Mencari sekian petak langit yang melengkung di malam ini. Tanyaku tak dapat aku tafsirkan, hingga aku menjamu diam yang tak letih menapakku.
Pelan kau angkat dagumu yang terbelah wajah indah di seka halus yang terurai, kau buka katup bibirmu, dan memegang kepalaku. Sentuhan yang mulai menjalar menuju tatap ziarah mataku, yang ku uzlahkan pada kedip matamu. Sabdamu mulai merintik lirih, “jangan gersangkan aku, agar mekarku adalah bakti cinta yang telah engkau janjikan, karena akar tubuhku telah menancap kuat pada takluk tubuhmu”
Kamar Tafakkur
17-02-12. 03:17

PADA PELATARAN SUCI

PADA PELATARAN SUCI
Maskwin 31

Aku kembali menggelar sejadahku, pada setiap halaman hatimu yang terpetak pada suguhan waktu subuh. Hingga sesegar air mata aku menindih kekebalan angkuhku. Ku mencarimu, di setiap pintal halus tenpa sapamu. Dalam ucap manjamu yang lunturkan aku atas gelisah yang tak terpendam dalam merindu. Bilakah engkau datang, atau justru dalam tafakkurku, kau telah diam-diam mengelus dadaku, dan ucapkan bacaan do’a yang aku ajarkan padamu saat pertama aku diperkenalkan tentang manjamu.
Sajakku telah mengakar pada setiap aku menanam rasa, hingga segar dedaun yang mulai tumbuh membalutmu dengan segala binar matamu yang mengaca. Tak dapat aku berlari, atas pelukmu yang ajariku menelaah pintamu. Pinta yang hadir di segala asma’ tentang isyarat abdi cintamu.
Di pelataran ini aku senandungkan syair-syair. Ditemani seluruh alir darahmu yang jelmakan kokoh kuat urat sarafku. Tak lagi ada hati yang akan aku tuju, bila hatimu telah membusur dengan tangkai do’amu, menuju hatiku. Dan aku kembali merasakan hadirmu, yang tak letih menanduku menuju arah yang beriring tarian kecilmu. Di kedip mataku kau petik nada indah. Dan tak ingin aku kembali memasung purnama. Di sini, aku damai bersamamu. Peluklah aku, dan katakanlah, “musyhaf cintamu telah melekat rapat di hatiku”

Kamar Tafakkur I
17-02-12. 03:03.

SETELAH KAU IZINKAN AKU MENGECUP HALUS MUTIARA DI KAKIMU

SETELAH KAU IZINKAN AKU MENGECUP HALUS MUTIARA DI KAKIMU
Maskawin 30

Saat lawatan kita pada suatu senja. Kini, kita berada pada petak langit yang sedang memayung sanjung abdi cinta kasih kita. Kita teredar di satu negeri yang jelmakan pijar kecil nyala kasih. Mensyairkan bait demi sajak yang terdentum di segala relung renung janji. Memutar pada kiblat rindu kita. Dan kaupun alamatkan aku tentang persembahan mahar dari garis-garis muyhaf. Tak terhenti dengan jeda miqra’, lantas titik air matamu memanah sekian baris yang ku cipta atas amanah binar matahari.

Bukan lagi musim yang kita nantikan disetiap perjamuan, karena sa’i kita adalah desir udara yang terayun pada singgasana yang berlaman dahaga kita. Hingga haus yang merajam kita adalah ruang termegah untuk timbumkan zam-zam rayu dan do’a.

Tidak lagi permintaan. Kini hatimu yang merasup hatiku, dan jiwaku yang kau nyalakan pada raga ruhmu, adalah raudlah dari segala harap yang termakbul.

Saat kau ijinkan aku mengecup mutiara di kakimu, saat  itulah ku rebahkan tubuhku pada laman landai sumsummu yang memekat. Dan rusukmu kan ku nobatkan sebagai mahkota pada persembahan kerajaanku di tahtamu.
 

Kamar Tafakkur I. 14-02-12. 11:11

DENGAN PERAHU YANG MENDATAR DI BIBIRMU AKU MENGADU

DENGAN PERAHU YANG MENDATAR DI BIBIRMU AKU MENGADU
Maskawin 29.
Pagi ini, saat lelapku telah menjauhi ribuan mimpiku. Kau kembali mengusikku untuk mendendang tentang arah telaga yang kau janjikan disetiap sabda yang kau tulis pada lambai dedaun bertintakan embun. Tak ada alasan untuk menikmati hari tanpa merenangi sekian basah kuyup bibirmu yang pautkan aku pada inai-inai lengkung alismu. Hingga sajak bibirmu itu, pelan-pelan mengubah matahari menjadi purnama. Maka ijinkan senandung do’aku menaiki perahu yang berlayar di bibirmu, hingga desah nafasku tak hanya tasbih di degup jantungku. ia senantiasa bersemayam dalam tautan nyala do’a yang tertambat pada setiap ulur do’amu.

Kamar Tafakkur I14-02-12. 10:52

UJUNG PENAKU yang RETAK

UJUNG PENAKU yang RETAK
Maskawin 28

Mulai ku bariskan aroma yang kini menyayat luka, taklukkan idam sajakku yang terbunuh dari jiwa mahkotanya. Tak terintip makna. Segala menelisik retak kalimatmu, yang membentur penaku. Hinga. Susun demi cerita menyejarah pada bahasa kesunyian. Seakan jalan dana arah tak lagi menjadi perahu pertama.
Sebuah janji atas pintamu. Tuk kubariskan prasasti pada cagak kuat di matamu. Seakan menjadi retak sebelum penaku menaburkan benih saktinya. Sesampainya aku di halaman tanganmu. Aku menatap jarimu sejenak. Lalu aku diam dalam kelana fikirku. Menziarahi sekian lintang nadiku yang bergelayut di sendu asihmu.
Biar tintaku retak
Kan ku pungut jemarimu itu. Akan ku tulis sajakku pada setiap kau mengelus wajahku, dan akan ku bacakan, saat kau mengecup keningku.

Kamar Tafakkur I.
14-02-12. 08:37

PADAMU YANG MELANGSAR SAYU RAYU

PADAMU YANG MELANGSAR SAYU RAYU
            Maskawin 27
Dalam diri yang tersandar, ku coba menayangkan se sukur jamahku.  Usapkan hasrat yang mulai tebarkan telisik hati di atas asih asri kenduri bianglala. Hingga kesempurnaan akan teramat jelas antara kabut di ilalang lepas menjelma benih samudra.
Dari pualam pipi hangat yang menuju muara. Aku coba bentangkan sekian eja yang mulai aku bilikkan di dinding yang terapahat huruf-huruf tentang janjimu. Dan biarkan aku memandangnya dari setiap ziarah yang memercik di cahaya mataku. Segenap impian, mulai terlembar pada setiap arahmu di baris kitab kitabku. Dan jamah kita, Terlukis mesra antara cipta dan kehendak di sudut himpitan jejak umpama dengan gengam yang tersimpan di pucuk hati.  Serunai inilah kan gagahi lekang waktu yang terusap antara peta sejarah dan mata hati. Hingga aurora ini adalah dentang atas nama subur nyata yang terlipat dalam kaidah kisah kasih.

Kamar Tafakkur I. 2012.

KU JAMAH ARIFMU

KU JAMAH ARIFMU
            Maskawin 26
Hingga kini, ku masih tak mampu mengusap wajahmu dengan irama dan kepak senyum yang ingin ku tebar di tegar ragamu. Dan biarlah ku ajarkan pada hujan, dan ku kabarkan engkau pada langit, yang sedang melamar baris angin yang membalut mesra. Ijinkan aku menuai se cawan madu beraroma  mawar dalam tari purnama, maka pasanglah slendangmu, menarilah dengan sekian dengting suara gamelan yang mengalun dari kepak sayap wajah malam. Izinkan aku menziarahi sabda-sabdamu, yang memanja bersama senandung yang terlahir atas gelakmu di sela uzlahku pada semerbak hatimu. Hingga kau kan lahirkan irama yang mendentum pada sejadah kecil yang membalut tubuhmu.
Ingin aku lafalkan halus ucapmu yang merdu, ku eja Hela nafasmu beraroma kesturi, dan syairkan  keringat tubuhmu yang  terdapati kompas arah langkahmu di sepanjang jalan yang kau telusuri. Hingga kan ku dapati engkau tetap memanja.

Kamar Tafakkur I. 2012.

SAAT KAU LABUHKAN

SAAT KAU LABUHKAN
            Maskawin 25
Dan bila
Akan ada tanya yang melesat dari busur malammu
Biarlah aku terlelap, hingga aku kenang engkau dalam mimpiku
Dan biar ku temui engkau di sana
Tanpa kau harus memanggilku.
Pahamilah kisah ini, karena lalang yang melenggang  dari dasar lubukmu adalah atas dasar kiluku yang terlalu merekat atas basah keringatmu. Diamlah sejenak, tenangkan dirimu. Kan ku petik se tangkai kenanga, ku balutkan pada masyafah yang teralas di pipimu yang basah. Percayalah, sekian kisah kita adalah jalur dari setiap aksara yang sedang berhamburan pada setiap lekuk jemari kita yang telah kita hidupkan pada bunyi lagu cinta, yang telah kita cipta atas nama lamar kasih di ujung cahaya.
Maka biarlah aku menemukanmu dalam skema sujudmu di setiap hening yang kau haturkan pada lembab basah tafakkurku. Hingga kita kan terbangun atas nama alas jiwa yang melembut di kejora malam.

Kamar Tafakkur I. 2012.

SECERCAH ASAMU YANG MENGATUNG DI TANDAN SAJAKKU

SECERCAH ASAMU YANG MENGATUNG DI TANDAN SAJAKKU
            Maskawin 24
Bukan tak bisa lahirkan dahaga bila engkau mulai mengejar sekian keadaanku. Karena ku adalah musyafir yang telah menyipta hujan atas dasar ranggas gurun yang tersimpang disulut masa-memasa. Hingga ku rindukan embun yang berbulan-bulan mulai meresap lirih pada katung dedaun yang mengering di dahan ucapku. Ku ingin kembali kau seperti dulu. Saat menyairkan sejuta nada hening yang begitu melandai menuju muara yang telah membatu di sungai kecilku. Dan jangan kau biarkan aku terus dahagakan ini, hingga dapat aku tanam bunga-bunga di atas kalut dzikirku.
Dalam buai ini. Biarlah aku tetap menuia dan menyerpih setiap nada pada alun kisahmu yang telah kau maktubkan di sirat surat kisahku.

Kamar Tafakkur I. 2012.

BAHASA DENTING DETIK SENJA

BAHASA DENTING DETIK SENJA
            Maskawin 23
Di sinilah aku mulai duduk dalam sepiku, pada kamar yang ku tempati atas nama bayangmu. Aku tak dapat beranjak. Hingga kau hadir damparkan aku tanpa sisa keafsahan rindu.
Aku mulai mencari ruang kecil di lentik jemarimu. Berharap kau taburkan usap senja yang kini perlahan menggelayut di baris keningmu. Dan pahamilah. Kala tebar awan mulai memanja dalam hilir angin. Aku sedang mendendang bersema denting yang mendetik di dadaku. Menemui engkau yang sedang menepi di setiap gelombang yang terhempas di wajahku. Dan aku tak mampu untuk tatihkan langkah ini. Karena senja begitu elok membalut hiruk lekuk bibirmu yang mulai basah dengan namaku.
Biarlah kau rasakan diamku. Karena dalam diam suara ini, aku sedang membangun ruang megah. Berharap kau akan menempatinya, lebih dari sekedar tempat berteduh. Maka maafkan atas alir peluhku, hingga kau kan mengerti, hadirku bukan hanya karena permintaanmu.

Kamar Tafakkur I. 2012.

MENGHILIR ILIR LAJU ALIR

MENGHILIR ILIR LAJU ALIR
            Maskawin 22
Menariku bersama lekuk tubuhku yang menggemulai di ujung asaku. Aku mengelana sekian gugus tangismu yang menghias di malam-malammu. Tahukah engkau yang sedang bertanya di balik panorama bintang tentang matahari. Di kedip tari cahaya itu adalah bias atas do’aku yang mulai ku muarakan di petak pejamku. Inilah alir perenunganku. Ingin ku muarakan atas kaidah yang terlantun dari bahasa kasih dan kerinduan. Aku ingin menempuh, sekian laju yang mulai hangatkan se jiwa ini, di atas tungku yang kau syairkan atas nama ijabah. Biarlah ku teguk sekian alir noktah ini, dan ku ikat pada tabir yang kian lekat membalut sekat yang terbaca di kubur nama tentang pagi, siang, senja dan malam. Akan aku taburkan semerbak di ats alir hujan, yang menghilir di hulu sungai di tepi ruas-ruas jariku.
Tak tahukah engkau, tentang pikir yang menusuk kelamku, legam pada bara sekam yang tersulut pelan-pelan di atas tari liut lidahmu. Hingga safinah kecilku, mulai mengais anyir kembara yang ku tuliskan. Entah alamat yang mana akan aku tumpahkan, hingga dasar yang memuara pada kaidah ini, dapat aku teguk dengan sempurna. Dan biarlah alir darah ini pada  degap degup jantungku, akan memprasasti di setiap kaligrafi namamu. Aku bukanlah kehangatan yang sepenuhnya, dan ajarilah aku menuai seribu syair-syair, hingga pelabuhan terakhirku akan aku tempati sebagai pulau yang berhias julang gunung-gunung. Dan dinginlah aku dalam beku, tambati lajur cahaya yang terlahir atas usap wajahku di lembar pesona.

Kamar tafakkur I. 2012.

DI JALAR HELA NAFASMU

DI JALAR HELA NAFASMU
            Maskawin 21
Bila, penanda kata yang kini telah mengayuh ribuan kisah-kisah. Kau kan tertatap pada segi bahasa yang melajur dalam tajuk judul ceritamu. Bentangkanlah aksara dalam silah kalimat. Hingga susun lakon hela mulai meluntur di lebur helamu. Dapatkah susun cerita itu kau hadiahkan sebagai gita cinta?. Ataukah pagi akan kau sulap dalam kering masa-masa?. Berhentilah, sejenak tatap lekat-lekat wajahmu yang kini mulai mengkarat dalam balut basuh kumkum air dari benua yang menjalar diusapmu. Dan bangunlah ruang, dimana petanya kan aku hanyutkan pada tapak yang menyudut di kakimu.
Kembaralah pada padang runduk padi yang mulai tumbuh di dasar petak sawah yang kau cipta dari dasar cucur hujan atas alir awan di matamu. Dan kembalilah untuk genggam sekian jerami yang menghijau. Dan genggamlah lambainya atas balut udara, dan tanamlah bunga-bunga, hingga kunang-kunang kan percikkan kedip cahayanya. Meski kau sedang melarik pijar damar-damar yang menggantung di lekuk pikirmu.
Esok, sekian hangat akan kau kubangkan pada arah rukuk sujudmu.

Kamar Tafakkur I. 2012.

DALAM BALUTAN SAJAK

DALAM BALUTAN SAJAK
            Maskawin 20
Telah ku rangkai bait huruf pada rangka kalimat baris dan garis.
Tembangkan alur ceritra di pecah cahaya.
Akupun mulai kayuhkan dayung tintaku, menyelami sekian tafsir rindu yang terbalut udara di telaah takdir. Sudut kecil yang memecah di kepalaku, telah mendarah atas kertas-kertas yang terikat paruh malam. Debarkan anggun rasa atas pintal pinta yang terhilir dari lidah dan mimpimu. Hingga jemari ini seluetkan tajam busur sabda yang terapit antara hari dan munajat. Lelapkah engkau yang kini sedang meramu sekian arah atas dasar derap langkah yang terhilir dibincang aroma.
Biarlah sajak ini, selimuti gigilmu yang sedang melarung masa di atas peluh tatihmu. Dan meramulah dalam kadar seteguk penawar dahagamu yang kini mulai mengering di katub bibirmu. Dan kembarakanlah sajakku, hingga kau tenamkan lingkar hasratmu dengan aroma bunga-bunga yang menangkai di zirah kedipmu. Dan balutilah sajakku ini dengan renungmu, hingga kau akan menyelam pada dasar samudra sabdaku, tanpa lagi kau tafsirkan sejuta asamu.

Kamar Tafakkur I, 2012.

SEKAR CIPTA AGUNG RASA

SEKAR CIPTA AGUNG RASA
                                                     DI PIJAR TARI CAHAYA
            Maskawin 19
Sebujur kujur mulai meniti lirih di sebrang kemilau cahaya, dari bercak hasrat yang telah terukir dalam. Menelaah berjuta kegalauan di altar cipta sua kelambu kecil yang tersusun di atas lincak kecil peraduan.
Mulai lirih terlantut gema itu. Hingga senyap telah syairkan aroma senja, lamat-lamat bumi ini mulai mengundang sepi, hingga dasar purnama sedang menanggalkan hitungan yang termaktub pada tubuh matahari.
Dan bahasapun mulai menghilir dari setiap rongga yang memaku kepal do’a atas cahaya. Bidik biduk musyafir cinta yang menyampan di baris bibirmu, telah tanggalkan gulita. Hingga pulau kecil yang memetak di baris pipimu melamar pijar atas nama cahaya.
Jiwa yang mati di gurun dahaga, telah membasah dalam gemulainya. Dan altar cipta ruang rasa memadu dengan sendu randu di ujung lalu di tilam sayu. Bersyairlah, hingga kilu nyilu yang telah teramu di itar waktu, kan terlumur rasa yang menyamudra di dasar semesta.

Kamar Tafakkur I. 2012.

KITA YANG MENDENDANG

KITA YANG MENDENDANG
Maskawin 18
Kau mulai melukiskan sekian sajak pada bentang arah yang berkabut. Senandungkan wajahmu yang sembab pada itar yang terkembara. Kaupun meramu butiran yang memercik dari setiap kisahmu. Dan kaupun datang pada riak kecil yang membaris di garis tanganmu. Kau pahatkan aksara tentang reranting yang menganting. Hingga denting itu mulai terusap lembut di sujud keningku.
Tak dapat aku bahasakan kembali. Hingga butiran kecil yang bergelayut di bola matamu, terusik sepi di atas pilar arah munajat. dan tataan marhalah yang kau cipta dari ziarah keringatku mulai memercik dan senandungkan bahasa kerinduan. Tak henti kita terdiam. Lalu kembali bertanya, tentang arah yang mulai kaku di kaki kita. Pun tatap mata kita masih tertebar lekat-lekat pada ranggas dedaun. Dan kau pun merunduk dengan sejuta bungkammu. Lalu kau kembali melihat istana kecil yang berpetak di jemarimu, dan kau biarkan daun kering itu melantunkan musik terindahnya. Bernyanyi tentang alir nada dendang degup jantungku.

Kamar Tafakkur I, 2012.

SURAT YANG TERSULAM

SURAT YANG TERSULAM
            DENGAN PINANG LAMAR HARI YANG TEREJA
            Maskawin 17
Mulai ku siapkan penaku, dengan tinta hitam yang terpajang dengan bidik busurnya yang runcing. Dan ku basuh kertas putih ini dengan harap yang mulai memukim dalam kukuh pajang pilar-pilar. Dan aku mulai pandangimu. Ku pejamkan mataku. Ku lihat kau sedang menari, dengan slendang yang kau cipta dari sari akar cinta. Lalu pelan-pelan aku nobatkan aksara demi aksara. Mulai ku pintal dengan mahkota yang ku sempuh dari istana raja yang terbangun dari petikan kecapi. Kan ku kembarakan pada singgasanamu. Yang beralas goresan pelangi.
Dimanakah dirimu:
Yang pada malam-malam itu kau sapa aku. Seakan kau kini mengghilang. Benarkah kau sedang melawan matahari dengan segala alir peluhmu yang melembab di dahimu.
Atau kau sedang terbakar, di atas aksara mereka yang jerumuskan aku pada tangkai-tangkai yang telah mematah sejak ribuan tahun yang silam.
Atau kau benar mengujiku dengan segala kebisuanmu. Dan apakah kau akan kembali menuangkan aku setangkai wangi melati, ataukah kau mulai bosan mendengar ocehanku yang menyangkar di setiap pikirmu.
Dalam tatih aku menyelaksa
Menabur wangi keminyan, dengan mantra yang mulai membubung di kamarku
Ku siapkan segelas air yang mewarna bunga-bunga
Lalu mulai ku teguk, agar tak gersang aku pada asa nantiku tentang jawabmu.
Ku tunggu balas akan suratku, hingga tunas pena ini akan tetap lahirkan sajak gurindam yang kan tertanam di atas lincak kecil yang ku buat dari dahan gelayut lenganmu dan balutan kecupmu.

Kamar Tafakkuur I. 24-11-11./ 12:25. Dalam sulam mendung di kota Sultan.

SEMBAB

SEMBAB
            Maskawin 16
Dihilir cerita-cerita, mulai mengalir deras air yang menuju muara pada gumpalan luka yang menganga pada istana penantian. Pucat pasi wajahku, mengitar pucuk dedaunan yang merenggas di pohon lamunku, ku tuang bercak-bercak sabdaku dalam sajak-sajak. Hingga kau kan mendengar jeritku dalam harapmu. Entah berapa aksara lagi harus aku suratkan padamu, sedang engkau tak mampu dengarkan alun rinduku yang memuncak tanpa tiang penyangga. Andai kuasa rindu ini adalah langit, biar ku tuai segalanya dengan hujan, dan ku panggil engkau dengan kilat dan petir yang tandai teriakanku. Lalu kau akan mengusir mendung, dan membiarkan bumi yang lapang di telapak tanganmu hanya basah dengan sembabmu. Karena itar udara yang menawaf dengan lirih, masih mampu sejukkan syair-syairmu yang termaktub pada kitab-kitab kecil yang kau siram dengan kembang kenanga dan daun babur.
Entah bagaimana aku kembali melukis pancar tuai suamu yang menerka ribuan sabdaku. Akankah kau akan diam dan terus berdiri. Hanya memandangiku dalam lamunmu, atau kau akan terlelap dengan menantiku membawakan damar kecil yang tarian gemualainya akan banginkan kau dari pancar ego yang telah kau hanyutkan lewat alir deras itu.
Jangan hanya berhenti
Karena tapak kakimu masih bisa kau pandangi, dan aku masih mampu basuh kakimu dari debu yang membalut. Dan biar ku kecup jemarimu. Hingga kau akan tetap disini memijakkan kakimu di atas ladang rinduku.

Kamar Tafakkur I. Mendiang Yogya. Saat sakit menderaku. 24-11-11./ 12:09.

DAN KITA YANG MEMBICARAKAN MALAM PERTAMA

DAN KITA YANG MEMBICARAKAN MALAM PERTAMA

        maskawin 15 

Kau tersenyum memalu, bak daun putri malu yang menyimpan wajahnya saat tersentuh jemari. Kau mulai mendendang, slendangkan kalung lamar cinta yang memajang baris-baris aksara yang melekuk pada raba tanganmu. Dan halusnya membuatku bergetar. Getar atas segala impi kesucian yang telah kita tandankan pada  kukuh jemari kita. Lalu kau ikatkan lembar degub jantungmu pada detak nadiku. Diamkan aku dengan desah panjang yang lahir atas nama pintu yang terkunci rapat.
 Kaupun terdiam. Menikmati hangat yang mulai menjalar di seluruh jemarimu. Kaupun diam, seakan kaku, entah nikmat atau sakit yang kau ibakan. Namun kau terus biarkan jemarimu terdiam. Sesekali merambat pada lengkung alisku, meraba keningku, lalu kau kembali tersenyum dengan hasrat yang membuahi geliat yang mengakarimu. Aku tak ingin beranjak, hingga padamlah geliatmu dan tarianku dengan pajang puas cinta yang tertukar dengan alun denting malam pertama yang kau syairkan dalam rumus yang kita hamburkan.
Hingga kita rangkum pada  malam-malam selanjutnya. Dan kaupun kembali mendesah, sesekali ku dengar kau merintih. Dan kau tetap membiarkanku untuk menyelami hangat dekapmu, yang terus membuatku mendayung sampanku, hingga bahtera dapat kita arungi atas segala nikmat yang mendamparkan kita pada hempas udara dan pada rebah pasir yang melumur di tubuh kita. Kaupun haturiku segelas madu yang kau peras dari negeri kesucianmu.

Kamar Tafakkur I. 24-11-11. 10:24

SESERPIH KIDUNG IRAMA

SESERPIH KIDUNG IRAMA
            DALAM AORORA DI KENINGMU
            Maskawin 14
Jingga sedang melukis senja di lurus kerut keningmu, pesonakan jalan-jalan kecil atas bintik cahaya yang mengidung dari semedi awan, kau sedang tertunduk dalam tafakkurmu, mengeja aksara matahari yang mulai mencipta samudra sebagai halaman. Kaupun menengadah, riak surut lautan seakan menggiringmu untuk memetik dedaunan kering, lalu menghanyutkannya, dengan serta kepak bangau, yang sayapnya memutih seperti putih matamu yang memberling.
Benarkah kau akan merindukanku dalam senja ini. Yang mulai membariskan cahayanya, dengan hatur wangi rampai melati.
Hingga bulan mulai terundang dengan sabitnya yang mungil, semungil kecup bibirmu pada matahari, matahari yang kian labihkan sejuta kehangatan, hingga nahkodakan engkau pada serpih bulir kasih yang melukis lurus dalam kedalaman galian rindu yang kau aromakan. Lalu kembang babur kau sulam menjadi tikar-tikar kecil yang rapih. Tersempuh sekian irama yang lahir dari tetes air matamu di kebun pipimu. Dan kaulah serpihan hati sang perindu. Yang kembali merundukkan parasmu pada ladang senja yang kemuning. Dan kaupun lahir di antara janji cinta yang memahat ribuan aksara bertandan bintang bebintang. Adalah engkau. Yang tertatap senja, hingga tampak merah di pipimu. Dan kau ziarahkan kumandang lambai tanganmu, mengajakku menari dengan ribuan pelangi dan rintik hujan.

Kamar Tafakkur I. 24-11-11. 10:00

DENGAN MALAMKU YANG MENIDURIMU

DENGAN MALAMKU YANG MENIDURIMU

            Maskawin 13

Dengan tembang yang kau syairkan dengan segala tubuhmu  yang bergelayut pada cahya purnama. Kibarkan berkas-berkas yun-ayun manjamu, rebahkan jutaan hasrat  yang mulai mengalung pada pori-pori  dedaunan. Malam semaiki tebarkan gulitanya dan cahayamu masih raupkan itar jubah  yang membalut tarian-tarianmu yang mengundangku untuk kembali bertanya tentang dayung yang mengapung pada baiat cinta yang kau tuliskan. Kaupun membawakannya untukku, atas jiwamu yang menggigil  bengil. Dimanakah makna kiranya dapat aku gelar, sementara alamat seribu kamar yang tercipta di hatimu,masih membeku. Dan aku tak ingin tersesat dengan kegilaanku, karena dalam sadarku, aku sudah cukup menggilaimu.

Kamar Tafakkur I. 24-11-11. 09:09

DENGAN CUMBU HANGATMU

DENGAN CUMBU HANGATMU
PADA BASAH LADANG HATI
Maskawin 12:

Tak akan ku pungkiri, rinai cumbu yang membasahi ladang ragaku. Menggajakku kelanakan aroma kisah dan cerita
Baiatkan kerinduan pada susun saraf ini. Kau terus mengalungkan jemarimu di lenganku, dan kembali membisikkan sekian kehangatan yang menghauskan batinmu. Meski hujan yang bermusim di tubuhmu, masih merintik.
Lalu kau rebahkan tubuhmu, kala malam
Mengajakku mengitari sekian ladang yang terhampar di ladang hati ini.
Membajak keheningan menjadi symbol masa yang kian beradu dengan senyum yang berguguran dari bibirmu.
Aku tak mampu lari
Karena kakimu kini telah merapat di kakiku.
Lalu kau berbisik
Jangan pernah pergi”
Dan akupun tetap bertandan di pohon tubuhmu, menyemat sekian do’amu yang menghaltar di keningku.
Kita pada cumbu kala itu
Dan pada jamah yang membasah pada waktunya.

Kamar Tafakkur I, 2011. (Selasa/ 09:07)

ATAS NAMA DIAMMU

ATAS NAMA DIAMMU
Maskawin 11:

Dalam diammu aku temukan engkau sedang merunduk.
Engkau tak bisu, entah kenapa, pagi kau sulap menjadi musim semi. Lalu kau undang musim gugur, yang ranggasnya gugurkan alismu. Dahimu mengkerut. Entah apa yang sedang kau isyaratkan. Aku tak mampu bertanya, karena dalam tanyaku, hanya ada jawaban yang sekian masa membatukan itar darah yang menggumpal di otakku. Aku tak ingin darah itu mengalir menuju nafasku yang terengah-engah, kemudian kau akan semakin diam. Dan hanya memandangiku dari bukit keningmu.
Saat aku beranjak
Kau juga masih saja diam. Tak menarikku
Kau semakin tajam menatapku
Bibirmu semakin kau kunci dengan jutaan rantai yang mengitari bibirmu
Dan kuncinya kau tanam pada samudra yang surut di lehermu.
Akan kau apakan aku yang sedang butuh tuturmu
Atau harus aku persiapkan kembang babur
Dengan riak air yang melandai dari telaga sum-summu.
Sapalah aku, bila engkau telah mampu merenangi teluk usiaku.

Kamar Tafakkur I, [12 Oktober, 2011/ 00:40]

KALA JELMA MELINTANG DI KEJORA MALAM

KALA JELMA MELINTANG DI KEJORA MALAM
Maskawin 10:

Di sana:
Kau arahkan julur bebintang pada didah dedaun. Mengiris tari cinta pada pucuknya. Dan kita membentangi pohon alif yang mengakar di zirah nadimu. Lalu kita menyerulingkan sekian asma’-asma, di tandan kejora.
Gugus yang memberling di matamu, menafsirkan ribuan bait sajak dan kalimat. Ilhamkan pinang kunang-kunang yang hinggap di jari manismu.
Lalu kita tersenyum
Sekian pelabuhan malam, mulai sepi. Menepikan sampan-sampan di ujungnya. Dan kita mulai bertandan bersama rintik embun yang meniti lirih.
Kau mengajakku berenang. Meski gigil raga kita tak lari dari peluh ini.
Lalu kau mulai menjelaskan tentang mimpimu yang terbalut pada awan di dinding langit. Meski kelambu awan telah menghilir dari musim ke detik. Walau rumah yang melengkung di telapak kakimu sedang retak dan menggaris pasir di sejadah yang basah.

Ruang Tafakkur I. [12 Oktober-2011/ 00:27]

TANYA YANG MENGIRIS LUKAKU

TANYA YANG MENGIRIS LUKAKU
Maskawin 9 :

Maafkan aku, bila bulan lima nanti aku tidak dapat memenuhi janjiku. Apapun yang terjadi, insyaAllah itu adalah yang terbaik. Karena hanya dialah yang maha menakdirkan.” (SMS-mu siang itu)

Tak ada keheningan yang aku inginkan, kecuali dalam rukuk dan sujudku. Lalu kau datang, mendendangkan sekian kalimat. Seakan kau mengubur purnama. Kau siapkan nisan kematian dari kafan yang berkelebat di matamu.
Aku mulai mencari kesantriaku.
Kesatriaku yang seakan terhujam, pelan-pelan rapuh, layu dan mengering.
Sanggupkah?
Dengan lirih aku mulai bertanya-tanya;
Siapakah dirimu sebenarnya?. Yang kini mulai mengacaukan hatiku. Memasung degub jantungku dengan paku aksaramu. Seakan kau akan meneteskan darah luka dari denyut nada nadiku.
Aku tak mengerti.


Kamar Tafakkur I, 08/0kt/11. 02:13

Kamis, 16 Februari 2012

kembengnga ate

tasek sagere akobek ka ate, ngolok muana tika se aoker bulen. masok ka tang pekkeran, nyarepsep ka tolang bule. matombu esto ben taresna se tak kabitong.
majember ate, e sabben are se terak kalaben terakna sonarra tika. jek u jeu deri taresnana bule, egebeyegiye mimber se abentuk ebbun e alossa deun. bule taresna ka tika tang kembengnga ate





(elembukna tang ate)
Sungguh, musim ini melipat dirimu dalam kening di wajahku
Melihat begitu banyak yang terlewat dalam tintaku
Menuliskan penat yang terlukis dalam setiap keringatmu

Duhai engkau yang semalam terjaga
... Untuk sekumpulan kertas, pena, tinta dan kata
Semoga Ia selalu menjagamu disana
Mengganti lelahmu dengan sejuta semangat yang membara

Pena dan tinta telah menjadi kata
Dan cinta dapat mengikat makna tanpa harus mengucap na
ma

Sabtu, 04 Februari 2012



jauh tebar debu ini mengusang di segala dinding langit dan mata para pemuja
hingga terjamah berjuta bahasa yg termaktub dalam kitab-kitab
pada kering akar rerumput, ada tasbih yang mengalung dengan lekat yang menguat.
hingga tak terkira alamat rindu yang mulai mendentum
lalu tapak rinai itu, dapat kita terjamahkan pada burdah yang mencagak kejora-kejora.
atas rindu padamu ya Musthafa


Arah yang melintang, tandankan aku pada bias kujur kerinduan.

Tak sua dalam usap nur wajahmu, hingga petak sejarah ku kaji atas alur aksara dan kaligrafi, yang terukir di dinding asma syahadat.

Dalam puji ini, tak henti aku mendendang pada sapa riuh rebana yang terelus udara.
Hingga getar tubuhku membaris di rindang masa, terharap pada sejuk syafaatmu.