Kamis, 17 Mei 2012

MENDARAH ARAHMU


Maskawin 50

Dari sebuah perjumpaan yang menghampar di bawah langit
Kau menyapaku dari sekian layar yang mengepak dari lautan yang berbeda
Kau menepi menyalami tanganku
Mengajakku berdansa dengan dayung jemarimu yang telah menarik ruas jariku
Ku terus menuju mu dengan berdarah waktu
Menempa ribuan hari tentang kisah pada relief musim, hingga darahmu tercecer melewati luka terdalam dari sabetan yang menebas ilirmu.

Alir ilir......
Meghilir dari alir landai asah rasamu. Di antara palung yang tercipta dari lajur mata yang berair kau mandikan aku. Mendekapku dengan sekian kehangatan mulya kepingan hati. Kau memapahku, rebahkan aku di haribaan sebagai sang kekasih. Kau menembang artate atas aksara macopat yang terukir sejarah, siul seruling bambu itu mengibarkan istana tentang arah yang membentang keangkuhan, hingga terindahmu adalah tabiat nikmat sebagai hadiah sang pencipta.

Kamar Tafakkur I. 15 Mei 2012. 20:14.

KABARKAN AKU TENTANG KEMBARAMU

Maskawin 49

Engkaulah yang telah membngunkanku dari tidur yang pulas dengan ulas elusmu yang melembut. Engkau seperti denting lonceng yang memanggil kerinduan. Menyapa dengan setiap engkau mampu sentuhkan tapak tanganmu di wajahku. Di dadamu ku temukan tempat peristirahatan yang teduh. Meneduh dengan segala isyarat tentang ziarah cinta yang telus melajura arah.


Kaulah kabar indah dari langit, yang mengutas awan dan menyipta kejernihan dalam danau segara petak kidungmu. Dan riak mengemulai lentikmu, tarikan berkas alas yang menyelendang disetiap engkau meunduk lirih, mencariku dari tepian ruas jemarimu, hingga pada petak tapak kakimu.
Dan kau melukis alisku dengan ribuan warna, dan lengkungnya adalah sabit rindu yang menajam.

Kamar Tafakkur I. 15 Mei 12. 20:00.

EMBUN DI SETIAP TITIK KAU MENEBAR DAHAGA


Maskawin 48.

Di antara jeda malam dan pagi, aku menemukanmu sedang merebah lirih di alam pikir dziqirku, ku sapa engkau pada setiap dzikir yang terpetik dari biji-biji tasbih, ku rebahkan engkau di atas lembaran musyhaf, dan ku rawat engkau dengan rintik air mata. Dan engkau pun menatap gigilku.

Lalu engkau pun mengembara, melewati kubangan persemedianku yang sepi tanpa kabilah. Kau berjalan dengan besit ranum purnama, di dalamnya engkau meneguk semilir, alirkan letis embun yang kau percikkan dari bibir lembutmu. Engkau terus berjalan, ku lihat dengar derab langkah kakimu semakin mendekatiku. Entah berapa lama lagi, atau mungkin tak jauh lagi.

Senandungmu mengandung petikan bahtera, yang tertera pada setiap engkau mensucikan wajahmu di gurun yang melapang dadaku.
Setibanya engkau di peraduanku...
Engkau memintaku menyiramkan sejuk embun yang telah ku petik atas nama basah dari hambaran laman tanganku, engkau pun meneguknya.

Tegukan pertama: kau berkata “bahwa aku lah yang kau rindu”. Dan sesampai sabdamu itu, aku pun melipat purnama pada kedalamn matamu, dan setiap malamnya, kau lah purnama yang tak membutuhkan malam, karena akulah semesta yang mendekapmu dengan erat tanpa sekat.

Tegukan kedua: kau berbisik “lahirkanlah anak-anakmu dari rakhiemku”. Se ziarah bisikmu itu, ku dekap engkau dengan rintik embun, hingga engkaulah embun yang tak lagi membutuhkan pagi, karena akulah penikmat embun di segala arah dahagamu, tak berbatas musim dan hitungan almanak.
Denting waktu adalah gelora atas asma’ kita.

Kamar Tafakkur I. 15 Mei 2012. 19:48.

ATASMU KEKASIH


Maskawin 47

Aku adalah yang lahir dari do’amu. Hadir dari gersang bumi atas terik matahari, membakar purnama dari susun eja kaidah tentang luka kilu. Dan engkau telah memanah ribuan dedaun, meranggas dari asah musim. Dan aku menuai segala bilangan terlangkap dari pandang suratmu yng tertulis tentang jelaga.
Dan sirah malam, mengalamat dari setiap renung tidurku, dan atasmu aku membayang sekian air yang memata atas uzlah berlingmu.
Dan aku terus setia pada  tatanan hangatmu, karena atas namaNya aku menuju, ingin mengayuh sampan yang kita cipta dari altar puisi.
Hingga kita akan merayakan cinta di antara saksi tentang pelabuhan yang menggurat di keningmu.
Dan ku hiaskan manik-manik kecil, yang setiap bulatannya terukir namamu yang memeluk namaku, hingga tumbuh barisan lurus tentang lengkung jejanur di depan rumah kita. Di sanalah kita hidangkan jamuan yang kita tata dari kepingan bilangan waktu tentang ikrar kekasih.

Kamar Tafakkur I. 14-05-12. 19:53.

SELARAS KEPINGAN NADA JANTUNGMU DI DO’AKU


Maskawin 46

Sebias surga memetak di jantungmu, mematang pada setiap arah yang ku tanam pada sekian harap masa memasa tentangmu yang menahkoda di nadi do’aku. Biar kita cipta telaga yang memanis madu.
Ini dadaku, berharap kau akan membantal di atasnya, lalu engkau akan menceritakan tentang rupawan bidadari, dan aku pun akan mengecupmu sebagai bidadari yang telah sempurna menjadi cerita pada setiap aku memahat nama tentang petikan nada jantungmu yang menganyam namaku.

TETES DARAHKU YANG INGIN KU SULAM DALAM RAKHIMMU

         Maskawin 45

Restui  aku.....
Menyusun setiap darah yang mengalir dari tubuh ibu. Yang dalam setiap alirnya adalah kehidupan yang teraup harap tanpa jeda. Mendanau pada setiap aku ingin mengayuh ketaatan di antara restu yang mengiring denting haru di kelopak matanya. Dan ibu telah sucikan darahku atas basuh kakinya dengan senampan rupa bunga yang terpetik di pohon masyafah istijabah.
Kini,
Ijinkan aku......
Lawatkan darahku pada kandung rakhiemmu, dan menetap selamanya, hidangkan aku rengkuh ternikmat pada lekukan suci yang menjalari tubuhmu. Dan desah terpanjangmu dapat ku pintal dengan desah isyaratku. Hingga rupa-rupa pandawa akan menggigil dalam dekapmu, dan kecup bibirmu akan memetak pada setia tabiatmu sebagai ibu.

Kamar Tafakkur I. 14 Mei 12. 19:02.


DENAH MENYAMPAI DO’A KITA


            Maskawin 44

Masih ingatkah engkau, dimana permulaan cinta ini bersua, dan menujukan arah tentang usung ceritra torehan bahasa kita. Pahamkah engkau, saat imbangi hari sibukmu dengan gelayut tanganmu di bahuku.

Detik telah menemui kujur tubuh waktu, meninggalkan hitungan almanak yang berguguran di bola mata kita, dan kita pun mengais kepingan asah hasrat yang terendam atas asih ingatan di punguk keangkuhan. Membaca aksara tanpa kitab, memantik pena tanpa tinta, biarkan keminyan menyala dengan asap wanginya, dan ritual rindu kadang mematah denah yang memapah ikrar do’a.

Dialog-dialog kecil membawa kita menapaki suguhan hasrat, dari sekian purnama telah terlawan pada lawatan tubuh matahari, menyingsing pada sejarah paling randu dari candu pemandu gita cahaya penanda julang sabda.
Dan
Sajakku ku sejadahkan di setiap engkau mengukur jarak malam, menanda pada syahadah irama harap titik termanis atas alas pelaminan.

Kamar Tafakkur I. 14 Mei 12. 18:23.

KEAFSAHAN BENAH CINTAMU

Maskawin 43

“Dan aku ingin memiliki abi seutuhnya. Aku takut kehiangan abi.” Katamu.

Ku kalungkan katamu pada kepak detak dadaku, ku ilirkan pada setiap aku mengingat atas hembus nafas yang mengeja nama dan hadirmu, ku tebar debar asahku, yang mengasih dari kelana didahmu dalam telaga utas usap do’amu.

Syahdu sibak kelambu dari socamu, menembus kedalaman socaku.
Sukma menagih lirih atas bilangan kata atas hantar pinang linangmu.

Hingga hasta tak ingin terlepas atas nama di lesung cahaya yang menyurat di mufradat namamu, dan kunjung sairku menelaah jiwa yang sedang mengambang di antara raup hujan dingin di malam pekat. Sekat menjelajah waktu, atas benua yang membentang di telapak tangan kita, dan rindu seakan mengeja tanpa jeda penamaan sahaja.

Atas nama usap cinta, ku sampaikan salam terindahku, di antara rengkuh sujud. Pakukan pinanganmu, hingga langit adalah atap terkuatnya, dan hatimu cagak paling utuh.

Kamar Tfakkur I. 14. Mei,12. 17:24.

KALA HALU SAPAMU MENGEPAK DENDANG

Maskawin 42

Kerinduan membahasa di kedip mataku, ku hantar menuju silsilah paling ranum di sekujur  tubuhmu. Aku menemu, seramu kias tentang bilah bibirmu yang mengering  akan bahasa dari pitutur yang menjelma cipta kasih. Umpama mengejar diri, dipekat kata yang masih tercecer pada lamun sepi.

Kemanakah sipu sembab ini ku haturkan
Dimanakah kan ku temui sisa bungkisan kecil atas sapamu

Dasar di tatar ku hantar, mengalaman dari arah yang terus ku simpangkan dari arah pekik luka duka, menyampai dari kedip kejora matamu yang masih tersimpan atas kuncup pada tembang melati, dan putik pun masih membasah di bawah bahasa jernih hujan.

Bila ku tuai hasrat yang terkerat, hingga serat rukukku sedang memapah ribuan tanya, dan karat desah do’aku sedang melalu atas asma’ penuturan kehangatanku sendiri. Sedang dalam bahasamu, akulah pecinta yang membatas.

Kamar Tafakkur I, 14 Mei, 12. 16:57

SAKSI ATAS DZIKIRKU TENTANGMU


Maskawin 41

Malam ini, kau urai kisahmu, yang kini sedang bercakap dengan slendang malam, lalu engkau melenggok, kedipkan matamu di antara sekat bulan yang sedang menuntun gulita. Kau seperti memetik kecapi, dan akulah dentingnya, hingga bahar sayup membusur pada petang ujarmu di pintu ruas berpetak

Aku belum melihatmu utuh, dan kau pun masih bersenda di istana yang mengepak sayapmu pada semedi beraroma kesturi, dan pada jelma doamu, aku menantimu dengan nada cemas, ingin mencium tapak tanganmu yang mensuci di setiap engkau tersimbah di kedalaman renungmu. Waktu adalah itar lanskap yang sempurna, berharap mengitar kita pada wujud sempurna yang merias indah, dinilai berkah.

Kadang gelisah terus menyambuk kita di rebah padu rindu tentang kecup ternikmat.
Ingin ku tandu engkau, menuju perjamuan abadi.


Kamar Tafakkur I, 21 April 2012. 22:20



KEMBARAKU TENTANG RIASMU


Maskawin 40

Pada garis permulaan, aku menapakkan sapaku tentang keindahan kalimatmu, mengenalmu yang sedang menggigil di antara ranjang yang setia mendekap gelisahmu kala itu. Ku bahasakan kembara sapaku, izinkan diri mendawai pada setiap kau uzlahkan suaramu di dinding keningku. Helai waktu, undangkan engkau di bilik sahaja, menunai bias makna namamu di bawah alur i’tikafku.
Kaupun mengelana zamanku
Menyipta musim-musim
Semai semi sahajamu di bangsal alur ceritraku tentang pemandian cinta.
Ranggas penampik kilu memetak tentang pajang sesenggang rawa yang mematang di kuyup wajahmu dan wajahku. Hujanpun  raupkan denting terindah tentang dawai yang melandai di karat ronta, hingga desir menyemilir pada setiap kita bertandang tentang aroma hikayat perihal hatur kisah dalam rakit kasih.

Kamar Tafakkur I , 21 April 2012. 20:13