Maskawin 41
Malam ini, kau urai kisahmu, yang kini sedang bercakap dengan slendang malam, lalu engkau melenggok, kedipkan matamu di antara sekat bulan yang sedang menuntun gulita. Kau seperti memetik kecapi, dan akulah dentingnya, hingga bahar sayup membusur pada petang ujarmu di pintu ruas berpetak
Aku belum melihatmu utuh, dan kau pun masih bersenda di istana yang mengepak sayapmu pada semedi beraroma kesturi, dan pada jelma doamu, aku menantimu dengan nada cemas, ingin mencium tapak tanganmu yang mensuci di setiap engkau tersimbah di kedalaman renungmu. Waktu adalah itar lanskap yang sempurna, berharap mengitar kita pada wujud sempurna yang merias indah, dinilai berkah.
Kadang gelisah terus menyambuk kita di rebah padu rindu tentang kecup ternikmat.
Ingin ku tandu engkau, menuju perjamuan abadi.
Kamar Tafakkur I, 21 April 2012. 22:20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar