Maskawin 48.
Di antara jeda malam dan pagi, aku menemukanmu sedang merebah lirih di alam pikir dziqirku, ku sapa engkau pada setiap dzikir yang terpetik dari biji-biji tasbih, ku rebahkan engkau di atas lembaran musyhaf, dan ku rawat engkau dengan rintik air mata. Dan engkau pun menatap gigilku.
Lalu engkau pun mengembara, melewati kubangan persemedianku yang sepi tanpa kabilah. Kau berjalan dengan besit ranum purnama, di dalamnya engkau meneguk semilir, alirkan letis embun yang kau percikkan dari bibir lembutmu. Engkau terus berjalan, ku lihat dengar derab langkah kakimu semakin mendekatiku. Entah berapa lama lagi, atau mungkin tak jauh lagi.
Senandungmu mengandung petikan bahtera, yang tertera pada setiap engkau mensucikan wajahmu di gurun yang melapang dadaku.
Setibanya engkau di peraduanku...
Engkau memintaku menyiramkan sejuk embun yang telah ku petik atas nama basah dari hambaran laman tanganku, engkau pun meneguknya.
Tegukan pertama: kau berkata “bahwa aku lah yang kau rindu”. Dan sesampai sabdamu itu, aku pun melipat purnama pada kedalamn matamu, dan setiap malamnya, kau lah purnama yang tak membutuhkan malam, karena akulah semesta yang mendekapmu dengan erat tanpa sekat.
Tegukan kedua: kau berbisik “lahirkanlah anak-anakmu dari rakhiemku”. Se ziarah bisikmu itu, ku dekap engkau dengan rintik embun, hingga engkaulah embun yang tak lagi membutuhkan pagi, karena akulah penikmat embun di segala arah dahagamu, tak berbatas musim dan hitungan almanak.
Denting waktu adalah gelora atas asma’ kita.
Kamar Tafakkur I. 15 Mei 2012. 19:48.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar