Maskawin 44
Masih ingatkah engkau, dimana permulaan cinta ini bersua, dan menujukan arah tentang usung ceritra torehan bahasa kita. Pahamkah engkau, saat imbangi hari sibukmu dengan gelayut tanganmu di bahuku.
Detik telah menemui kujur tubuh waktu, meninggalkan hitungan almanak yang berguguran di bola mata kita, dan kita pun mengais kepingan asah hasrat yang terendam atas asih ingatan di punguk keangkuhan. Membaca aksara tanpa kitab, memantik pena tanpa tinta, biarkan keminyan menyala dengan asap wanginya, dan ritual rindu kadang mematah denah yang memapah ikrar do’a.
Dialog-dialog kecil membawa kita menapaki suguhan hasrat, dari sekian purnama telah terlawan pada lawatan tubuh matahari, menyingsing pada sejarah paling randu dari candu pemandu gita cahaya penanda julang sabda.
Dan
Sajakku ku sejadahkan di setiap engkau mengukur jarak malam, menanda pada syahadah irama harap titik termanis atas alas pelaminan.
Kamar Tafakkur I. 14 Mei 12. 18:23.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar