Maskawin
63
Di
tempat itulah, di ranjang yang bertabur wangi tubuhmu aku bersuara. Menyapamu
penuh makna.
Kau
menyebut namaku sebagai nobatmu yang kau tuturkan dari arah nafas yang tergerak
di dadamu.
Kau
tersenyum indah, meraba wajahku beserta kecupan ternikmat. Malam seperti tak
akan usai, hingga kita ingin menyulap subuh, menjadi dini dalam ruang yang
indah.
Kaulah
purnama kala itu, menatapmu seperti melihat syurga meski tak bernama, lantaran
namamu adalah aku yang kau sebut sebagai kekasih.
kita
sambangi arah yang tak biasa
menemukan
sudut air mata yang merintik di daun alismu
lalu
ku sapa engkau, dengan darah yang ku alirkan lewat doa’-do’aku.
Kamar Tafakkur III. 10.2.13.
12:52

Tidak ada komentar:
Posting Komentar