Maafkan aku, puisiku. Kini aku bersetubuh dengan rindu, yang detaknya hanya mendesah namamu.
:Mengertikah kau, lelaki yang kurindu selalu?
'Disaat aku merindukanmu, menatap rintik hujan ternyata mampu membentuk segurat senyuman diantara airmata yang mengalir perlahan.' — with Jhody M. Adrowi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar