Maskawin 52
Telah ku sampaikan tentang kabarnya padamu, dan engkau masih
melukis jeda, Bapak. Engkau yang dulu menggendongku, saat aku terkuali lemah,
hingga haru ibu membatas hujan, lantaran aku seakan tak lagi mampu tempuh hidup
ini. Engkau tahu saat pertama aku menatap matahari. Engkau pun mengerti
saat engkau membuat air mata ini mendanau di atas rangkaian musyhaf.
Alir keruh keringatmu telah mengukir tubuhku, dan langkahmu
tertulis jelas dalam sejarahku.
Kini, izinkan aku membawanya kehadapanmu, hingga aku bisa melukis
tubuhku dalam tubuhnya, dan aku akan ukirkankan sejarah paling indah, dan bulan
pun tak sanggup menawarnya.
Ijinkan aku mengecup keningnya di hadapanmu. Saat engkau bersilah
dengan nikmat khusyuk.
Hingga kesucian yang kau balutkan atas keningku, dapat aku taburkan
dalam persemedian rakhimnya, dan engkau akan tersenyum, dengan janji syurga
yang kau ajarkan pada setiap usiaku menutur waktu.
Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 17:19.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar