Senin, 11 Maret 2013

Eja Manjamu yang Ku Sebut



Maskawin 64

Bila ku dekati engkau, engkau berlari sembari riang tertawa, lalu kau mengejarku dan mencubit bagian tubuhku.
Hingga kau pun mendekapku. Dan itulah yang ku sebut engkau sebagai sajak.

Bila aku duduk di sofa itu, kau datang menghampiri, sembari membawakan segelas kopi hangat dengan cangkir khusus untukku, lalu kau duduk di sampingku. Sesekali kau minta aku menuangkannya untukmu.
Sabdamu menjalar menuju bibirku, sandar tubuhmu di pundakku sebuah hangat yang meranjang dari tepian hari, itulah yang ku sebut engkau sebagai puisi.

Bila kopi itu mulai dingin, kau dengan cepat menghabiskannya, tanpa sisa untukku. Lalu kau lari ke dalam kamar, dan di sanalah ku sajak engkau sebagai roman paling ranum. Dan rindingmu dapat aku lihat dari titik-titik di kulit tanganmu yang kau tunjukkan padaku.


Kamar Tafakkur III. 10.2.13. 13:07.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar