Maskawin
64
Bila
ku dekati engkau, engkau berlari sembari riang tertawa, lalu kau mengejarku dan
mencubit bagian tubuhku.
Hingga
kau pun mendekapku. Dan itulah yang ku sebut engkau sebagai sajak.
Bila
aku duduk di sofa itu, kau datang menghampiri, sembari membawakan segelas kopi
hangat dengan cangkir khusus untukku, lalu kau duduk di sampingku. Sesekali kau
minta aku menuangkannya untukmu.
Sabdamu
menjalar menuju bibirku, sandar tubuhmu di pundakku sebuah hangat yang
meranjang dari tepian hari, itulah yang ku sebut engkau sebagai puisi.
Bila
kopi itu mulai dingin, kau dengan cepat menghabiskannya, tanpa sisa untukku.
Lalu kau lari ke dalam kamar, dan di sanalah ku sajak engkau sebagai roman
paling ranum. Dan rindingmu dapat aku lihat dari titik-titik di kulit tanganmu
yang kau tunjukkan padaku.
Kamar Tafakkur III.
10.2.13. 13:07.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar