Maskawin 53
Waktu telah melahirkan sekian ceritra, dari ronta yang terkais atas
makna nama kita, kita terlahir dari tubuh yang sempurna, tumbuh dalam lanskap,
menuju denting detik yang terpetik pada setiap diri menyulam salam kelam, dan
gurat cahaya melintas pada utas pijar do’a kita.
Dari gurun ke pantai, waktu membius jendela jiwa-jiwa kita, hingga
sudut terindah terbaca pada setiap bening mata yang menuju sempurna.
Bila ku lihat wajahmu
Serasa jelek diri ini, waktu pun tak jua menjelaskan dengan
sempurna, bagaimana aku temukan ini
Hingga saat aku berdiam di atas ranjang berdupa, engkau mengecup
pipiku dengan tutur sajak yang lahir dari bisikmu di malam yang panjang.
Bahwa akulah untuk masa depanmu.
Percakapan sekian waktu, telah melintang dari bentang gemintang,
bertebar di debar degub jantungku yang larut dalam jantungmu.
Dan kita terus meniti jembatan rindu ini, hingga mahkota yang suci
dapat kau persembahkan untukku utuh. Dan waktu telah terjabar.
Tuhan, darah kami terbatas, nafas kami tak mungkin cukup
menjelajahi waktu sampai titik nadirnya, utuhkan kami menjadi satu, utuh
terindah sebagai hamba, hingga percakapan kami adalah tutur waktu yang suci, lewat
bahar mahar ini menujumu.
Kamar Tafakkur I. 19 Mei 12. 18:39.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar