Maskawin 60
Detik adalah langkah,
dimana setiap diri tak tertampik dari rayu waktu.
Maka berdirilah di
sampingku. Jangan hitung usiamu, lantaran hanya kematian yang memisahkan raga
kita. Berharap, kelak di syurgaNya kaulah bidadariku paling anggun. Akan ku
tegukkan cawan susu padamu, dan kumandikan engkau dengan rayu paling madu di
sungai madu. Sampai engkau harus meneteskan air mata bila melepasku.
Tidurlah di bahuku, kan
ku dekap bahumu, ku nyanyikan lagu tentang rindu, tentang sahaja waktu rindu,
tentang dawai semai yang ingin aku titipkan pada setiap kau menghirup nafas.
Mendekatlah, sayang.
Sampai sekat hanya
kelebat dari gulita, dan kaulah bercah-bercah yang rona. Menggiring syair ilir
di alir nadiku. Genggan jantungku, dan rasakan setiap getarnya, adalah engkau yang
riuh merukuk sujud. Dan ziarahi batinku, adalah engkau yang sedang menyiapkan
perjamuan-perjamuan malam.
Malam ini begitu gigil,
sayang. Mendekatlah. Rapatkan tubuhmu di dadaku. Dan damailah. Karena esok,
adalah hari baru. Dimana salju bukan lagi dingin yang menggigit, karena akulah
kehangatan yang akan selalu kau sebut sebagai alas rebahmu. Dan kaulah mahkota
dari singgasana beratap purnama.
Kamar
Tafakkur III. 14 November. 2012. 21:37.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar