Maskawin
56
“Bawakan ini”. Katamu manja
Sungguh ku terdebar
getar di dampar dadaku, suaramu begitu merakit ukir di dendang telingaku. Suara
indah tanpa iringan tiupan seruling. Seakan kau menembang bahar dari
kitab-kitab.
Aku berdiri di
sampingmu, bak aku adalah raja yang telah mendapatkan tahta, dan kau adalah
mahkota yang tersulam dari manik-manik intan pusaka. Jantungku mengalamat
degup. Dari rundukku ku curi ranum wajahmu. Dan indahmu tersemat dari setiap
ukir senyummu.
Kita pun sama-sama
menghirup senja. Dan kita mulai merangkai alir ilir kata. Kita duduk bersama, menulusuri
pelabuhan randu.
Ku genggam tanganmu,
seperti darahku mengalir deras, engkau pun
menggenggamnya erat, menata jemari jarimu di jariku.
Kita mulai mencuri
kecupan, kecupan pertama yang hangat menggiring malam dengan nikmat terhangat.
Hingga tiba dimana nikmat mengulum di seluruh tubuhku. Kau seperti kehausan di
padang dadaku. Ku ijinkan engkau menikmati setiap tataan tubuhku. Matamu
terpejam, menahan nikmat teramat. Dan ku tutup tubuhmu dengan selendang yang
terkalung di lehermu. Kita sama-sama terdampar di desah panjang nan lapang.
Hah.....!.
Kamar
Tafakkur III. 14 Novermber. 2012. 16 :14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar