Senin, 11 Maret 2013

TARIKU MENARI MADU BIBIRMU II



Maskawin 56

“Bawakan ini”.  Katamu manja
Sungguh ku terdebar getar di dampar dadaku, suaramu begitu merakit ukir di dendang telingaku. Suara indah tanpa iringan tiupan seruling. Seakan kau menembang bahar dari kitab-kitab.

Aku berdiri di sampingmu, bak aku adalah raja yang telah mendapatkan tahta, dan kau adalah mahkota yang tersulam dari manik-manik intan pusaka. Jantungku mengalamat degup. Dari rundukku ku curi ranum wajahmu. Dan indahmu tersemat dari setiap ukir senyummu.

Kita pun sama-sama menghirup senja. Dan kita mulai merangkai alir ilir kata. Kita duduk bersama, menulusuri pelabuhan randu.

Ku genggam tanganmu, seperti darahku mengalir deras, engkau pun menggenggamnya erat, menata jemari jarimu di jariku.

Kita mulai mencuri kecupan, kecupan pertama yang hangat menggiring malam dengan nikmat terhangat. Hingga tiba dimana nikmat mengulum di seluruh tubuhku. Kau seperti kehausan di padang dadaku. Ku ijinkan engkau menikmati setiap tataan tubuhku. Matamu terpejam, menahan nikmat teramat. Dan ku tutup tubuhmu dengan selendang yang terkalung di lehermu. Kita sama-sama terdampar di desah panjang nan lapang. Hah.....!.

Kamar Tafakkur III. 14 Novermber. 2012. 16 :14


Tidak ada komentar:

Posting Komentar