Maskawin
61.
Kembali,
aku belajar menata tapak tatihmu. Sembari memapahmu dari tepian keping hatiku
yang terlawat sebagai namamu. Tulislah sebagaimana engkau bersajak. Bacalah dimana
engkau merenungkan tasbihmu. Hingga getar di dadamu adalah hidup yang tertawar
atas nama baiat suci tentang nama kita.
Kau
telah izinkanku memiliki jiwamu. Meski kadang aku harus berlarian. Aku masih di
sini. Merenung engkau yang terkadang diam membisu, lalu berkata tanpa jeda.
Jika
kelak air mata yang menggaris di pipimu
Dapat
aku teguk kala hausku
Maka
mendekatlah, tanpa ada batas barang sekedip mata indahmu itu.
Kamar Tafakkur III.
10.2.13. 12:13.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar