Maskawin
62
Pagi
yang buta, menjegah kita dari azar yang tumbuh atas usap takdir
Kau
beradu membangunkanku, memanggil nama yang kiranya akan bertemu dalam dekap
imamah.
Kau
berdandan...
Bersiap
memapah ratu bermahkota itar cinta
Ku
temani engkau, mengajakmu berbincang-bingcang. Hingga gelegar siang menyeru
kita menatap masa.
Kita
duduk bersama, ku bahasakan peneriman akanmu sebagai bidadari duniaku, yang
kelak kaulah ratu akhiratku.
Terik
merubah senyum semakin bermakna, kau bukan lagi kamu, tapi adalah kamu yang ku
susun dari hijaiyah itu, qabiltu. Ku
terima engkau dari segala arahku, memapahmu menuju istana termegah, dan kaulah
melati yang tersusun dari bakti niscayamu.
Kau
cium tanganku, itulah kecup terhangat paling sakral yang dapat aku sampaikan
sebagai keridlaan.
Kamar Tafakkur III. 10.2.13.
12:45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar