Maskawin 55
Jengah menempa. Ku
berdiri melewati kejumutan rasa. Membentang tubuhku dari kota yang menghias
lampu-lampu. Pada setiap persimpangan aku titipkan do’a, hingga jamuan
pertemuan kita dapat terhantar dari arah dimana janji mengukir namaku dan
namamu.
Ku titipkan pada setiap
matahari menampar wajahku. Dan kilu mataku berkedip, mencari wajahmu. Hingga
senandungku tetap ku sandungkan pada tanya yang merayap dari ujung rambutku. Ku
susun ingatanku, sampai jejak kakiku hilang di bawah pepohon yang gersang.
Aku duduk merangkai
tatapanku. Ziarahkan tanyaku kembali. Dimanakah dirimu. Bisakah aku
mengenalimu. Meraba wajah anggunmu. Dan kau mencium tanganku.
Jariku menggetarkan
puisi
Kakiku memijak paku
bumi
Tubuhku tersandar di
pojok pikirku
Terus ku mencarimu dari
semerbak wangimu yang kau titip pada setiap purnama menimang wajahmu. Lalu ku
temukan engkau.
Dan senyummu merangkai
tangkai di desir nadi ari-ariku.
Kamar
Tafakkur III. 14 November 2012. 15:53

Tidak ada komentar:
Posting Komentar