ATAS NAMA DIAMMU
Maskawin 11:
Dalam diammu aku temukan engkau sedang merunduk.
Engkau tak bisu, entah kenapa, pagi kau sulap menjadi musim semi. Lalu kau undang musim gugur, yang ranggasnya gugurkan alismu. Dahimu mengkerut. Entah apa yang sedang kau isyaratkan. Aku tak mampu bertanya, karena dalam tanyaku, hanya ada jawaban yang sekian masa membatukan itar darah yang menggumpal di otakku. Aku tak ingin darah itu mengalir menuju nafasku yang terengah-engah, kemudian kau akan semakin diam. Dan hanya memandangiku dari bukit keningmu.
Saat aku beranjak
Kau juga masih saja diam. Tak menarikku
Kau semakin tajam menatapku
Bibirmu semakin kau kunci dengan jutaan rantai yang mengitari bibirmu
Dan kuncinya kau tanam pada samudra yang surut di lehermu.
Akan kau apakan aku yang sedang butuh tuturmu
Atau harus aku persiapkan kembang babur
Dengan riak air yang melandai dari telaga sum-summu.
Sapalah aku, bila engkau telah mampu merenangi teluk usiaku.
Kamar Tafakkur I, [12 Oktober, 2011/ 00:40]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar