DI JALAR HELA NAFASMU
Maskawin 21
Bila, penanda kata yang kini telah mengayuh ribuan kisah-kisah. Kau kan tertatap pada segi bahasa yang melajur dalam tajuk judul ceritamu. Bentangkanlah aksara dalam silah kalimat. Hingga susun lakon hela mulai meluntur di lebur helamu. Dapatkah susun cerita itu kau hadiahkan sebagai gita cinta?. Ataukah pagi akan kau sulap dalam kering masa-masa?. Berhentilah, sejenak tatap lekat-lekat wajahmu yang kini mulai mengkarat dalam balut basuh kumkum air dari benua yang menjalar diusapmu. Dan bangunlah ruang, dimana petanya kan aku hanyutkan pada tapak yang menyudut di kakimu.
Kembaralah pada padang runduk padi yang mulai tumbuh di dasar petak sawah yang kau cipta dari dasar cucur hujan atas alir awan di matamu. Dan kembalilah untuk genggam sekian jerami yang menghijau. Dan genggamlah lambainya atas balut udara, dan tanamlah bunga-bunga, hingga kunang-kunang kan percikkan kedip cahayanya. Meski kau sedang melarik pijar damar-damar yang menggantung di lekuk pikirmu.
Esok, sekian hangat akan kau kubangkan pada arah rukuk sujudmu.
Kamar Tafakkur I. 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar