DI SEMENANJUNG DO’A
Maskawin 33
Larik-larik hati
Menunjuk satu isyarat pada kepak sadarku.
Kembali mencari. Alir deras yang telah cipta telaga.
Telah teraup wajah ini pada papar damba yang larungkan asa tanpa jeda. Jelmakan dahaga pada setiap cinta yang mengais kering ilalang. Tak henti gerak jemari menyipta tebar lamar do’a di segala arah yang pautkan aku pada asma’ kasih. Tanyaku mengelana pada ribuan musim di tebar degup didahku. Terselam pada tutur hidup yang rebahkan aku tanpa jera.
Pada tadah di hari itu, yang terus aku tuliskan pada setiap kertas tebal yg kucipta dari isakmu, aku menengadah. Bersama bahar yang tumbuh pada sekian asa. Ku pohon tentang kekasih, yang kian mampu taburkan sujud pada ranjang pengantinku. Kaupun datang dari sela jariku, hingga do’aku mulai tumbuh akan gelakmu yang menyunting susun sarafku pada fikir yang termaktub pada kitab takdir. Aku mencarimu pada setiap kepak yang sahutkanmu tentang semerbakmu yang terus menumbuh pada tasbihku.
Rabb....! bila kini kau sediakan halaman sejadah tentang makna asmara. Bila sekian niat telah memadang pada alir dzikir yang julangkan junjung langit. Demi gapaikan malam suci pada detik degup yang memahar, maka ku persembahkan alamat alir niatku yang ku sucikan dengan fatihah tanpa jeda. Yang terus mengalir atas basah bibir ini.
Bawalah aku padanya dengan satu tandu yang kan terpikul oleh ijabah para malaikat. Dan ijinkan aku mengusap air mata yang telagakan pipinya, hingga deru degup jantungnya dapat aku persembahkan pada hati yang meluas di atas mahabbah yang kau cipta dari rahman rakhimmu.
Bawalah ia padaku, dengan kereta yang termaktub pada setiap lembar syahadat, atas bisik ayat-ayat yang pelan ku bacakan di setiap desah nafasnya. Hingga sumsumku jalari lekuk tubunya pada karangan do’a yang ku kalungkan pada dayung istijabah.
Kamar Tafakkur I
17.02.12. 03:42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar