Selasa, 21 Februari 2012

SEMBAB

SEMBAB
            Maskawin 16
Dihilir cerita-cerita, mulai mengalir deras air yang menuju muara pada gumpalan luka yang menganga pada istana penantian. Pucat pasi wajahku, mengitar pucuk dedaunan yang merenggas di pohon lamunku, ku tuang bercak-bercak sabdaku dalam sajak-sajak. Hingga kau kan mendengar jeritku dalam harapmu. Entah berapa aksara lagi harus aku suratkan padamu, sedang engkau tak mampu dengarkan alun rinduku yang memuncak tanpa tiang penyangga. Andai kuasa rindu ini adalah langit, biar ku tuai segalanya dengan hujan, dan ku panggil engkau dengan kilat dan petir yang tandai teriakanku. Lalu kau akan mengusir mendung, dan membiarkan bumi yang lapang di telapak tanganmu hanya basah dengan sembabmu. Karena itar udara yang menawaf dengan lirih, masih mampu sejukkan syair-syairmu yang termaktub pada kitab-kitab kecil yang kau siram dengan kembang kenanga dan daun babur.
Entah bagaimana aku kembali melukis pancar tuai suamu yang menerka ribuan sabdaku. Akankah kau akan diam dan terus berdiri. Hanya memandangiku dalam lamunmu, atau kau akan terlelap dengan menantiku membawakan damar kecil yang tarian gemualainya akan banginkan kau dari pancar ego yang telah kau hanyutkan lewat alir deras itu.
Jangan hanya berhenti
Karena tapak kakimu masih bisa kau pandangi, dan aku masih mampu basuh kakimu dari debu yang membalut. Dan biar ku kecup jemarimu. Hingga kau akan tetap disini memijakkan kakimu di atas ladang rinduku.

Kamar Tafakkur I. Mendiang Yogya. Saat sakit menderaku. 24-11-11./ 12:09.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar