Rabu, 22 Februari 2012

Mahar Cinta 34 - 36



DALAM KALIMATMU AKU MENADAH

Maskawin 34.
Susun hujan yang meraup wajah langit, dentingkan istilah rindu yang terlahir pada latar namamu yang tertuang pada alir nafas yang senandungkan tengtangmu yang jelita. Terus aku dengarkan denting itu, hingga halus wajahmu mulai menyentuh setiap lekuk yang terukir di tubuhku. Dan ku temukan engkau sedang membalut pipimu yang memerah rona. Lamat-lamat aku ta...fsirkan engkau. Engkau yang mendetik pada degub dendang jantungku yang kau uzlahkan pada setiap engkau mampu duduk bersilah di atas kembang tahajjudmu. Ikat mengerat kuat, itar biji tasbih yang mengalung di lentik ujung jemarimu. Hingga bekas keningmu dapat ku ishlahkan pada ibrah napak tapakku di bawah kautsar jilbabmu.

Toman, 23/03/12. 3:00


SAMPAI CINTAKU MENGAKAR DI LADANG NEGERI-MU

Maskawin 35

Basah membasah asa, syairkan tentang petak-petak telaah pada sekian kaji tentang ilham janji yang ku ibhamkan pada setiap tetes kecil yang membaur di telaga malamku. Ku tanam seikat benih yang ku dapati dari lumbung kecil pada sudut hatiku. Hingga kaupun memanah langit di sekian gerimis yang mengental pada riak awan yang mengitar di belah keningmu. Dan suguh hujan-pun ku dapati pada petak ladang yang mulai menumbuh benih itu.
Lalu, kau sampaikan padaku tentang kisah-kisah yang sudah kau rangkum bersama gigilmu yang membekas karat di bibirmu, tiba-tiba kau berbisik padaku: “yah, benih itu telah tumbuh”.
Lalu ku tancapkan satu mahkota terindah yang ku bangun dari pertapaan suciku. Baiat kilau sabda-sabda yang telah ku syairkan pada setiap engkau meladang di negerimu, dan kembali mengikat benih yang telah landaikan namaku pada sesembah ikhlasmu.

Toman, 23/02/12. 03:25
KU PAHAT NAMAMU PADA SABITKU

Maskawin 36

Setelah engkau ku lamar pada detik sunting denting masa dalam susun sakral Fatihah
Malam yang gambarkan purnama
Pagi yang raupkan tubuh embun pada dedaun alismu
Senja yang kabarkan engkau tentang tarian ilalang
Mulai ku pahat engkau pada sabitku yang tertulis dari alir darahku di jejari manis ini. ku bekaskan wangi darahmu pada setiap aku menghirup segar nafasmu. Dan kaupun mulai mengerat erat di eraman teduh pelukku. Hingga balut gelayut lenganmu yang menguat di leherku, telah menggagangkan sabitku yang mengukir namamu, menyakral di hatiku.
Kan ku tebas mata yang menebar rayuan pada matamu, karena sabitku telah menajam bersama gangsi darahmu di tubuhku. Akan ku hunus bibir yang merayumu dengan sejuta diksi fiksi. Karena kilat sabitku mulai marasuk pada bulat putih hitam matamu.
Genggamlah sabit ini duhai detak nadiku. Dan persembahkan padaku, bila angin saja berani membelai rambutmu.


Toman, 23/01/12. 03:44.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar