MENGHILIR ILIR LAJU ALIR
Maskawin 22
Menariku bersama lekuk tubuhku yang menggemulai di ujung asaku. Aku mengelana sekian gugus tangismu yang menghias di malam-malammu. Tahukah engkau yang sedang bertanya di balik panorama bintang tentang matahari. Di kedip tari cahaya itu adalah bias atas do’aku yang mulai ku muarakan di petak pejamku. Inilah alir perenunganku. Ingin ku muarakan atas kaidah yang terlantun dari bahasa kasih dan kerinduan. Aku ingin menempuh, sekian laju yang mulai hangatkan se jiwa ini, di atas tungku yang kau syairkan atas nama ijabah. Biarlah ku teguk sekian alir noktah ini, dan ku ikat pada tabir yang kian lekat membalut sekat yang terbaca di kubur nama tentang pagi, siang, senja dan malam. Akan aku taburkan semerbak di ats alir hujan, yang menghilir di hulu sungai di tepi ruas-ruas jariku.
Tak tahukah engkau, tentang pikir yang menusuk kelamku, legam pada bara sekam yang tersulut pelan-pelan di atas tari liut lidahmu. Hingga safinah kecilku, mulai mengais anyir kembara yang ku tuliskan. Entah alamat yang mana akan aku tumpahkan, hingga dasar yang memuara pada kaidah ini, dapat aku teguk dengan sempurna. Dan biarlah alir darah ini pada degap degup jantungku, akan memprasasti di setiap kaligrafi namamu. Aku bukanlah kehangatan yang sepenuhnya, dan ajarilah aku menuai seribu syair-syair, hingga pelabuhan terakhirku akan aku tempati sebagai pulau yang berhias julang gunung-gunung. Dan dinginlah aku dalam beku, tambati lajur cahaya yang terlahir atas usap wajahku di lembar pesona.
Kamar tafakkur I. 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar