SEKAR CIPTA AGUNG RASA
DI PIJAR TARI CAHAYA
Maskawin 19
Sebujur kujur mulai meniti lirih di sebrang kemilau cahaya, dari bercak hasrat yang telah terukir dalam. Menelaah berjuta kegalauan di altar cipta sua kelambu kecil yang tersusun di atas lincak kecil peraduan.
Mulai lirih terlantut gema itu. Hingga senyap telah syairkan aroma senja, lamat-lamat bumi ini mulai mengundang sepi, hingga dasar purnama sedang menanggalkan hitungan yang termaktub pada tubuh matahari.
Dan bahasapun mulai menghilir dari setiap rongga yang memaku kepal do’a atas cahaya. Bidik biduk musyafir cinta yang menyampan di baris bibirmu, telah tanggalkan gulita. Hingga pulau kecil yang memetak di baris pipimu melamar pijar atas nama cahaya.
Jiwa yang mati di gurun dahaga, telah membasah dalam gemulainya. Dan altar cipta ruang rasa memadu dengan sendu randu di ujung lalu di tilam sayu. Bersyairlah, hingga kilu nyilu yang telah teramu di itar waktu, kan terlumur rasa yang menyamudra di dasar semesta.
Kamar Tafakkur I. 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar