KITA YANG MENDENDANG
Maskawin 18
Kau mulai melukiskan sekian sajak pada bentang arah yang berkabut. Senandungkan wajahmu yang sembab pada itar yang terkembara. Kaupun meramu butiran yang memercik dari setiap kisahmu. Dan kaupun datang pada riak kecil yang membaris di garis tanganmu. Kau pahatkan aksara tentang reranting yang menganting. Hingga denting itu mulai terusap lembut di sujud keningku.
Tak dapat aku bahasakan kembali. Hingga butiran kecil yang bergelayut di bola matamu, terusik sepi di atas pilar arah munajat. dan tataan marhalah yang kau cipta dari ziarah keringatku mulai memercik dan senandungkan bahasa kerinduan. Tak henti kita terdiam. Lalu kembali bertanya, tentang arah yang mulai kaku di kaki kita. Pun tatap mata kita masih tertebar lekat-lekat pada ranggas dedaun. Dan kau pun merunduk dengan sejuta bungkammu. Lalu kau kembali melihat istana kecil yang berpetak di jemarimu, dan kau biarkan daun kering itu melantunkan musik terindahnya. Bernyanyi tentang alir nada dendang degup jantungku.
Kamar Tafakkur I, 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar