Selasa, 21 Februari 2012

DAN KITA YANG MEMBICARAKAN MALAM PERTAMA

DAN KITA YANG MEMBICARAKAN MALAM PERTAMA

        maskawin 15 

Kau tersenyum memalu, bak daun putri malu yang menyimpan wajahnya saat tersentuh jemari. Kau mulai mendendang, slendangkan kalung lamar cinta yang memajang baris-baris aksara yang melekuk pada raba tanganmu. Dan halusnya membuatku bergetar. Getar atas segala impi kesucian yang telah kita tandankan pada  kukuh jemari kita. Lalu kau ikatkan lembar degub jantungmu pada detak nadiku. Diamkan aku dengan desah panjang yang lahir atas nama pintu yang terkunci rapat.
 Kaupun terdiam. Menikmati hangat yang mulai menjalar di seluruh jemarimu. Kaupun diam, seakan kaku, entah nikmat atau sakit yang kau ibakan. Namun kau terus biarkan jemarimu terdiam. Sesekali merambat pada lengkung alisku, meraba keningku, lalu kau kembali tersenyum dengan hasrat yang membuahi geliat yang mengakarimu. Aku tak ingin beranjak, hingga padamlah geliatmu dan tarianku dengan pajang puas cinta yang tertukar dengan alun denting malam pertama yang kau syairkan dalam rumus yang kita hamburkan.
Hingga kita rangkum pada  malam-malam selanjutnya. Dan kaupun kembali mendesah, sesekali ku dengar kau merintih. Dan kau tetap membiarkanku untuk menyelami hangat dekapmu, yang terus membuatku mendayung sampanku, hingga bahtera dapat kita arungi atas segala nikmat yang mendamparkan kita pada hempas udara dan pada rebah pasir yang melumur di tubuh kita. Kaupun haturiku segelas madu yang kau peras dari negeri kesucianmu.

Kamar Tafakkur I. 24-11-11. 10:24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar