Selasa, 21 Februari 2012

SESERPIH KIDUNG IRAMA

SESERPIH KIDUNG IRAMA
            DALAM AORORA DI KENINGMU
            Maskawin 14
Jingga sedang melukis senja di lurus kerut keningmu, pesonakan jalan-jalan kecil atas bintik cahaya yang mengidung dari semedi awan, kau sedang tertunduk dalam tafakkurmu, mengeja aksara matahari yang mulai mencipta samudra sebagai halaman. Kaupun menengadah, riak surut lautan seakan menggiringmu untuk memetik dedaunan kering, lalu menghanyutkannya, dengan serta kepak bangau, yang sayapnya memutih seperti putih matamu yang memberling.
Benarkah kau akan merindukanku dalam senja ini. Yang mulai membariskan cahayanya, dengan hatur wangi rampai melati.
Hingga bulan mulai terundang dengan sabitnya yang mungil, semungil kecup bibirmu pada matahari, matahari yang kian labihkan sejuta kehangatan, hingga nahkodakan engkau pada serpih bulir kasih yang melukis lurus dalam kedalaman galian rindu yang kau aromakan. Lalu kembang babur kau sulam menjadi tikar-tikar kecil yang rapih. Tersempuh sekian irama yang lahir dari tetes air matamu di kebun pipimu. Dan kaulah serpihan hati sang perindu. Yang kembali merundukkan parasmu pada ladang senja yang kemuning. Dan kaupun lahir di antara janji cinta yang memahat ribuan aksara bertandan bintang bebintang. Adalah engkau. Yang tertatap senja, hingga tampak merah di pipimu. Dan kau ziarahkan kumandang lambai tanganmu, mengajakku menari dengan ribuan pelangi dan rintik hujan.

Kamar Tafakkur I. 24-11-11. 10:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar