SETELAH KAU IZINKAN AKU MENGECUP HALUS MUTIARA DI KAKIMU
Maskawin 30
Saat lawatan kita pada suatu senja. Kini, kita berada pada petak langit yang sedang memayung sanjung abdi cinta kasih kita. Kita teredar di satu negeri yang jelmakan pijar kecil nyala kasih. Mensyairkan bait demi sajak yang terdentum di segala relung renung janji. Memutar pada kiblat rindu kita. Dan kaupun alamatkan aku tentang persembahan mahar dari garis-garis muyhaf. Tak terhenti dengan jeda miqra’, lantas titik air matamu memanah sekian baris yang ku cipta atas amanah binar matahari.
Bukan lagi musim yang kita nantikan disetiap perjamuan, karena sa’i kita adalah desir udara yang terayun pada singgasana yang berlaman dahaga kita. Hingga haus yang merajam kita adalah ruang termegah untuk timbumkan zam-zam rayu dan do’a.
Tidak lagi permintaan. Kini hatimu yang merasup hatiku, dan jiwaku yang kau nyalakan pada raga ruhmu, adalah raudlah dari segala harap yang termakbul.
Saat kau ijinkan aku mengecup mutiara di kakimu, saat itulah ku rebahkan tubuhku pada laman landai sumsummu yang memekat. Dan rusukmu kan ku nobatkan sebagai mahkota pada persembahan kerajaanku di tahtamu.
Kamar Tafakkur I. 14-02-12. 11:11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar