SURAT YANG TERSULAM
DENGAN PINANG LAMAR HARI YANG TEREJA
Maskawin 17
Mulai ku siapkan penaku, dengan tinta hitam yang terpajang dengan bidik busurnya yang runcing. Dan ku basuh kertas putih ini dengan harap yang mulai memukim dalam kukuh pajang pilar-pilar. Dan aku mulai pandangimu. Ku pejamkan mataku. Ku lihat kau sedang menari, dengan slendang yang kau cipta dari sari akar cinta. Lalu pelan-pelan aku nobatkan aksara demi aksara. Mulai ku pintal dengan mahkota yang ku sempuh dari istana raja yang terbangun dari petikan kecapi. Kan ku kembarakan pada singgasanamu. Yang beralas goresan pelangi.
Dimanakah dirimu:
Yang pada malam-malam itu kau sapa aku. Seakan kau kini mengghilang. Benarkah kau sedang melawan matahari dengan segala alir peluhmu yang melembab di dahimu.
Atau kau sedang terbakar, di atas aksara mereka yang jerumuskan aku pada tangkai-tangkai yang telah mematah sejak ribuan tahun yang silam.
Atau kau benar mengujiku dengan segala kebisuanmu. Dan apakah kau akan kembali menuangkan aku setangkai wangi melati, ataukah kau mulai bosan mendengar ocehanku yang menyangkar di setiap pikirmu.
Dalam tatih aku menyelaksa
Menabur wangi keminyan, dengan mantra yang mulai membubung di kamarku
Ku siapkan segelas air yang mewarna bunga-bunga
Lalu mulai ku teguk, agar tak gersang aku pada asa nantiku tentang jawabmu.
Ku tunggu balas akan suratku, hingga tunas pena ini akan tetap lahirkan sajak gurindam yang kan tertanam di atas lincak kecil yang ku buat dari dahan gelayut lenganmu dan balutan kecupmu.
Kamar Tafakkuur I. 24-11-11./ 12:25. Dalam sulam mendung di kota Sultan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar